Minggu, 08 Juli 2018

Filosofi Embun Pagi


Embun hanyalah uap-uap air yang berkumpul menjadi titik air. Embun muncul pada suhu yang cukup dingin dengan kondisi yang tenang. Malam hari adalah kondisi yang cukup dingin dan tenang bagi uap-uap air membentuk titik air. Kondisi menurunnya suhu udara pada tengah malam menuju dini hari menyebabkan uap-uap air berada di titik jenuh. Titik Jenuh akibat penurunan suhu ini kita sebut sebagai titik embun.

Embun memiliki filosofi yang bagus, jika kita renungkan secara mendalam. Embun, adakah yang lebih indah dari kilau beningnya? Embun akan selalu hadir di pagi hari walaupun disaat musim penghujan maupun musim kemarau. Embun adalah titik jenuh yang terkendali, menyatu dalam satu misi memberikan kesegaran di hari yang baru. Betapapun panasnya musim kemarau. Embun pagi tak akan pernah ingkar janji untuk selalu hadir menyambut mentari pagi.

Hadirnya embun sebagai pertanda akan janji Allah SWT kepada seluruh isi dunia bahwa akan ada pergantian setelah hitam kelam malam akan datang hari baru yang terang benderang. Embun pagi ini bukanlah embun yang kemarin, embun kemarin sudah hilang lenyap terbakar sinar matahari. Embun di setiap pagi hari menunjukan hari-hari baru yang menyegarkan yang penuh harapan.

Embun pagi laksana  hati manusia yang pada hakekatnya adalah bersih dan suci. Kepercayaan dan kejujuran yang tertanam di hati manusia akan tetap terjaga jika visi-misinya sebagai Mahluk ciptaan Allah SWT tetap  terjaga dan terkendali.  Alam dan lingkunganlah yang terkadang menghancurkan dan mengotori isi hati manusia juga kendali iman yang lepas. Visi-misi manusia dan dunia adalah menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Sedangkan visi-misi syetan adalah menghancurkan visi-misi manusia sebagai mahluk Tuhan. Syetan meyelinap di tengah-tengah lingkungan sekitar kita, dan berada di Alam Raya  hidup bersama manusia.
Mari jaga iman dan embun pagi yang ada di dalam hati kita. Agar selamat di dunia dan akherat.
(self reminder)

Citra, 8 Agustus 2018.








Kamis, 05 Juli 2018

KEJUJURAN


Sebuah kata yang mempunyai nilai sangat tinggi dalam sebuah hubungan. Namun kata itu mudah diucapkan sulit untuk dilakukan oleh sebagian orang. Lawan kata dari sebuah kejujuran lebih sering dilakukan demi sebuah gengsi, harga diri dan hubungan dengan masyarakat.Dua kata yang saling bertentangan namun mempunyai dampak yang sangat besar jika dilakukan atau tidak dilakukan.

Kejujuran atau jujur mengesankan suatu kebajikan, kehormatan dan nilai mulianya akhlak seseorang. Ketidak jujuran atau kebohongan sebaliknya mengesankan keburukan, kehinaan dan rendahnya nilai kemuliaan seseorang. Manusia akan merasa bangga jika dikategorikan sebagai sosok yang jujur, akan merasa berbeda yang akan menimbulkan rasa kepercayaan dirinya yang besar. Kebalikan dengan manusia yang di klaim sebagai manusia tidak jujur akan dikucilkan, tidak dihargai atau bahkan di cemooh.

Itulah sebuah kata yang bisa di prediksi oleh masing-masing manusia dominannya akan sama penilain terhadap kata tersebut.

Tetapi pada prakteknya kejujuran adakala membuat manusia kehilangan teman, kehilangan keluarga, kehilangan kepercayaan, dan tersudutkan. Namun Tuhan tidak tidur, dimata Allah segala hal kebaikan tetap kebaikan walau terkadang menyakitkan, itu untuk sementara. Allah akan mengakat derajat seseorang jika apa yang telah dilakukan dalam hidupnya berpedoman pada apa yang diperintahkan Allah SWT dan menjauhi semua larangan Allah SWT.

Seseorang bisa saja tidak jujur demi menjaga nama baik dan kehormatan dirinya di masyarakat istilah jaman sekarang "Pencitraan" atau memakai topeng. Bertahun-tahun lamanya mampu menyimpan kebusukan, yang tertutup rapi dengan gaya dan penampilan yang menarik, menyulam kelakuan dengan begitu manis hingga masyarakat terkagum-kagum.

Sehingga dimata masyarakat kadang kala yang jujur terlihat hina dan yang munafik justru dikagumi, karena sifat manusia pada dasarnya hanya melihat "Kulitnya" saja atau covernya saja tanpa mau mempelajari lebih dalam apa isinya.

Ok, sahabat,..sekian sedikit coretan dari saya malam ini terima kasih.


Jumat, 16 Februari 2018

JENIS -JENIS TANDA BACA

Pengertian Tanda Baca adalah Suatu simbol atau tanda yang digunakan dalam suatu kalimat atau paragraf

Jenis-Jenis Tanda Baca :
1. Tanda Titik   ( . )
2. Tanda Koma  ( , )
3. Tanda Titik dua ( : )
4. Tanda Petik ( ' )
5. Tanda Seru  ( ! )
6. Tanda Tanya ( ? )
dll...


ad 1. Tanda Titik  ( . )
a. Untuk mengakhiri kalimat.
    contoh :  Welas berlari meninggalkan rumah makan 'Ayam Bakar Ganthari' menuju ke terminal 
                   Blok M.
(Kutipan Novel : Potret Yang Terbuang karya : Indahnya Surya )

b. Menunjukkan bagian atau daftar.
    contoh :  BAB 1. Potret  Itu Tersenyum.
                   BAB 2. Pahitnya Sebuah Pertolongan.
                   BAB 3. Rembulan Tertutup Awan.
                   dst.

c. Menunjukkan waktu
    contoh :  Waktu menunjukkan pukul 14.00 WIB, ketika kami sampai di sebuah masjid.

bersambung....



Minggu, 05 Februari 2017

RENUNGAN PROKLAMASI

RENUNGAN PROKLAMASI


Ketika itu..
Berjuta rakyat tercengang
Dengan telanjang kaki berlari
Dan terus berlari, sambil melonjak kegirangan
Mendengar pidato kenegaraan
Tentang Kemerdekaan.

Terbayang dalam angan
Canda-riang anak-anak bangsa
Gantungkan sejuta cita
Dengan semangat membara
Warisan para pejuang kita
Demi tegaknya negeri tercinta.

Namun kini...
Tak ada lagi pidato kenegaraan
Yang membuat rakyat tercengang
Karena jeritan rakyat terus terdengar
Pengemis tua, anak-anak jalanan
Dan preman-preman masih merajalela
Apakah kekayaan negeri ini
Masih tersisa untuk kami ?


Wahai generasi muda
Wahai penerus bangsa
Bangkitlah
Mari tegakkan kembali
Semangat Pahlawan kita
Jangan sia-siakan keringat dan tetes darah mereka
Mari terus renungkan
Agar mampu memaknai arti kemerdekaan.

Mari bangkitlah bangsaku
Genggam erat rantai persatuan
Kokohkan jiwa patriotisme
Tersenyumlah agar damai nenegri ini.

Dengan Sang Merah Putih ditangan
Mari bergerak maju
Kita terikkan bersama
Merdeka !!! sekali Merdeka tetap merdeka
MERDEKA  !!!.






Jumat, 30 Desember 2016

EPISODE BULAN SABIT

Bukan Matahari yang ingin kuceritakan, tetapi tentang Rembulan. Berawal dari Matahari yang tertutup bumi. Datanglah malam,muncullah rembulan yang setengahnya memancar indah dan setengah lagi bersembunyi. Hingga cahaya Rembulan hilang keutuhannya. Walau hanya bulan setengah namun tetap nampak menarik. Itulah bulan sabit.

Di bawah pohon beringin tua, aku duduk terpana menyaksikan pancaran cahaya indah di langit sana dalam sendiri tanpa bintang-bintang, awan putihpun seakan berhenti bergerak, enggan mendekati. Sekumpulan awan hitam menjauh berbisik bersama teman-temannya untuk menyatu ciptakan mendung. Tiba-tiba...
Gelap menyergap merambah mayapada. Sinar bulan sabit tak mampu menembus awan tebal berwarna hitam. Aku kehilangan wajah rembulanku. Dalam tatapan nanar aku berusaha melangkah untuk mencari pelita di dalam rumah. Langkahku terhenti seonggok batu tak mampu kuhindari. Aku pernah jatuh terantuk batu  itu hingga aku terluka. Dalam upayaku terbangun dari luka, aku berharap rembulan kembali bercahaya namun semua sia-sia.

Sepertinya  Kisah baru, babak ke-2 dengan tema yang sama akan menjadi bagian dalam hidupku. Disini ada pemeran protagonis, antagonis dan peran pembantu. Alhamdulillah, tak ada kebodohan yang berlarut-larut, sehingga keyakinan sudah hadir bahwa semua itu adalah skenario Allah. Semakin dekat dengan-Nya, semakin mampu kita menjadi sutradara bagi dinding-dinding hati kita sendiri. Semua akan berakhir indah seiring berjalannya sang waktu dan berputarnya roda kehidupan. Seperti rembulan itu suatu saat akan memancar utuh kembali menjadi bulan purnama yang akan membuat dunia menjadi terang benderang.


Minggu, 27 Desember 2015

Cerita Abu-Abu

Hari ini semua terasa abu-abu. Sejak pagi, menjelang siang dan tengah hari. Sejenak kusandarkan penat diantara hiruk-pikuk manusia di sekitarku. Kubunuh keresahan dan kebisingan yang memukul-mukul didada. Apa dan bagaimana langkah yang  harus kufokuskan jika semua menuju warna abu-abu.
Aku menyukai warna hijau yang penuh harapan dan kesegaran. Dia menyukai warna merah yang berani dan menantang. Mereka menyukai warna kuning yang penuh keagungan. Sementara dunia begitu berwarna tinggal kita bebas memilih warna kesukaan kita.

Hari semakin siang kesibukan makin terasa disini di sebuah swalayan besar ujung komplek. Aku belum menemukan warna yang kucari semua melesat begitu cepat, belum sempat aku menangkap warna itu telah lenyap bercampur dengan segala hiruk-pikuk dan debu jalanan. Masih saja hijauku penuh harapan. Yang kutunggu untuk setiap langkah yang ingin kulalui. Aku melanjutkan lukisan hati yang belum juga tuntas. Cat air yang kutuang masih sangat basah.

Aku tahu tak semua orang sama warna hatinya, hingga Tuhan memberikan banyak warna di dunia, agar semua manusia dapat memilih warna kesukaannya.  Semua akan menjadi bahagia jika menemukan warna kesukaannya.


BERJALAN DI BEBATUAN



Langkah ringkih telanjang kaki masih tetap terayun. Walau banyak bebatuan di sepanjang jalan. Sejenak seraut wajah kusam tanpa cahaya itu berpaling. Menyaksikan sang surya yang tengah memanggang tubuhnya. Panas terik tak dihiraukan lagi. Keringat bercucuran, kering rasa di kerongkongan. Dia masih akan terus berjalan menuju dermaga di mana pelabuhan tempat dia menanti sang buah hati setelah sekian lama berpisah oleh sebuah sandiwara kehidupan yang membuatnya terbuang dari sanak saudara. Kini perjalanannya hampir berakhir meninggalkan hutan terbakar di lereng gunung gundul dan perkebunan tandus. Kini dia akan berlari menuju pantai dimana akan tercipta damai bersama angan dan mimpi buruknya selama berjalan diatas bebatuan., akan segera menghilang.