Jumat, 16 Februari 2018

JENIS -JENIS TANDA BACA

Pengertian Tanda Baca adalah Suatu simbol atau tanda yang digunakan dalam suatu kalimat atau paragraf

Jenis-Jenis Tanda Baca :
1. Tanda Titik   ( . )
2. Tanda Koma  ( , )
3. Tanda Titik dua ( : )
4. Tanda Petik ( ' )
5. Tanda Seru  ( ! )
6. Tanda Tanya ( ? )
dll...


ad 1. Tanda Titik  ( . )
a. Untuk mengakhiri kalimat.
    contoh :  Welas berlari meninggalkan rumah makan 'Ayam Bakar Ganthari' menuju ke terminal 
                   Blok M.
(Kutipan Novel : Potret Yang Terbuang karya : Indahnya Surya )

b. Menunjukkan bagian atau daftar.
    contoh :  BAB 1. Potret  Itu Tersenyum.
                   BAB 2. Pahitnya Sebuah Pertolongan.
                   BAB 3. Rembulan Tertutup Awan.
                   dst.

c. Menunjukkan waktu
    contoh :  Waktu menunjukkan pukul 14.00 WIB, ketika kami sampai di sebuah masjid.

bersambung....



Minggu, 05 Februari 2017

RENUNGAN PROKLAMASI

RENUNGAN PROKLAMASI


Ketika itu..
Berjuta rakyat tercengang
Dengan telanjang kaki berlari
Dan terus berlari, sambil melonjak kegirangan
Mendengar pidato kenegaraan
Tentang Kemerdekaan.

Terbayang dalam angan
Canda-riang anak-anak bangsa
Gantungkan sejuta cita
Dengan semangat membara
Warisan para pejuang kita
Demi tegaknya negeri tercinta.

Namun kini...
Tak ada lagi pidato kenegaraan
Yang membuat rakyat tercengang
Karena jeritan rakyat terus terdengar
Pengemis tua, anak-anak jalanan
Dan preman-preman masih merajalela
Apakah kekayaan negeri ini
Masih tersisa untuk kami ?


Wahai generasi muda
Wahai penerus bangsa
Bangkitlah
Mari tegakkan kembali
Semangat Pahlawan kita
Jangan sia-siakan keringat dan tetes darah mereka
Mari terus renungkan
Agar mampu memaknai arti kemerdekaan.

Mari bangkitlah bangsaku
Genggam erat rantai persatuan
Kokohkan jiwa patriotisme
Tersenyumlah agar damai nenegri ini.

Dengan Sang Merah Putih ditangan
Mari bergerak maju
Kita terikkan bersama
Merdeka !!! sekali Merdeka tetap merdeka
MERDEKA  !!!.






Jumat, 30 Desember 2016

EPISODE BULAN SABIT

Bukan Matahari yang ingin kuceritakan, tetapi tentang Rembulan. Berawal dari Matahari yang tertutup bumi. Datanglah malam,muncullah rembulan yang setengahnya memancar indah dan setengah lagi bersembunyi. Hingga cahaya Rembulan hilang keutuhannya. Walau hanya bulan setengah namun tetap nampak menarik. Itulah bulan sabit.

Di bawah pohon beringin tua, aku duduk terpana menyaksikan pancaran cahaya indah di langit sana dalam sendiri tanpa bintang-bintang, awan putihpun seakan berhenti bergerak, enggan mendekati. Sekumpulan awan hitam menjauh berbisik bersama teman-temannya untuk menyatu ciptakan mendung. Tiba-tiba...
Gelap menyergap merambah mayapada. Sinar bulan sabit tak mampu menembus awan tebal berwarna hitam. Aku kehilangan wajah rembulanku. Dalam tatapan nanar aku berusaha melangkah untuk mencari pelita di dalam rumah. Langkahku terhenti seonggok batu tak mampu kuhindari. Aku pernah jatuh terantuk batu  itu hingga aku terluka. Dalam upayaku terbangun dari luka, aku berharap rembulan kembali bercahaya namun semua sia-sia.

Sepertinya  Kisah baru, babak ke-2 dengan tema yang sama akan menjadi bagian dalam hidupku. Disini ada pemeran protagonis, antagonis dan peran pembantu. Alhamdulillah, tak ada kebodohan yang berlarut-larut, sehingga keyakinan sudah hadir bahwa semua itu adalah skenario Allah. Semakin dekat dengan-Nya, semakin mampu kita menjadi sutradara bagi dinding-dinding hati kita sendiri. Semua akan berakhir indah seiring berjalannya sang waktu dan berputarnya roda kehidupan. Seperti rembulan itu suatu saat akan memancar utuh kembali menjadi bulan purnama yang akan membuat dunia menjadi terang benderang.


Minggu, 27 Desember 2015

Cerita Abu-Abu

Hari ini semua terasa abu-abu. Sejak pagi, menjelang siang dan tengah hari. Sejenak kusandarkan penat diantara hiruk-pikuk manusia di sekitarku. Kubunuh keresahan dan kebisingan yang memukul-mukul didada. Apa dan bagaimana langkah yang  harus kufokuskan jika semua menuju warna abu-abu.
Aku menyukai warna hijau yang penuh harapan dan kesegaran. Dia menyukai warna merah yang berani dan menantang. Mereka menyukai warna kuning yang penuh keagungan. Sementara dunia begitu berwarna tinggal kita bebas memilih warna kesukaan kita.

Hari semakin siang kesibukan makin terasa disini di sebuah swalayan besar ujung komplek. Aku belum menemukan warna yang kucari semua melesat begitu cepat, belum sempat aku menangkap warna itu telah lenyap bercampur dengan segala hiruk-pikuk dan debu jalanan. Masih saja hijauku penuh harapan. Yang kutunggu untuk setiap langkah yang ingin kulalui. Aku melanjutkan lukisan hati yang belum juga tuntas. Cat air yang kutuang masih sangat basah.

Aku tahu tak semua orang sama warna hatinya, hingga Tuhan memberikan banyak warna di dunia, agar semua manusia dapat memilih warna kesukaannya.  Semua akan menjadi bahagia jika menemukan warna kesukaannya.


BERJALAN DI BEBATUAN



Langkah ringkih telanjang kaki masih tetap terayun. Walau banyak bebatuan di sepanjang jalan. Sejenak seraut wajah kusam tanpa cahaya itu berpaling. Menyaksikan sang surya yang tengah memanggang tubuhnya. Panas terik tak dihiraukan lagi. Keringat bercucuran, kering rasa di kerongkongan. Dia masih akan terus berjalan menuju dermaga di mana pelabuhan tempat dia menanti sang buah hati setelah sekian lama berpisah oleh sebuah sandiwara kehidupan yang membuatnya terbuang dari sanak saudara. Kini perjalanannya hampir berakhir meninggalkan hutan terbakar di lereng gunung gundul dan perkebunan tandus. Kini dia akan berlari menuju pantai dimana akan tercipta damai bersama angan dan mimpi buruknya selama berjalan diatas bebatuan., akan segera menghilang.

Sabtu, 05 September 2015

TAK KENAL MAKA TAK SAYANG



TAK KENAL MAKA TAK SAYANG

Ketika ditawari rumah di kawasan Tangerang, keluarga Surya yang waktu itu masih tinggal di daerah Pasar Minggu Jakarta selatan menolak.Bayangan tentang rumah di Tangerang yang panas, gersang dan banyak polusi terutama dari asap pabrik membuat mereka tidak tertarik.

Namun Maryana yang sudah merasakan tinggal disana, terus mempromosikan Perumahan Citra dengan antusias dan meminta keluarga Surya untuk melihatnya terlebih dahulu. Akhirnya untuk menyenangkan hati temannya, Surya mengajak keluarganya berkunjung ke Perumahan Citra pada bulan Desember 2007.

Pertama kali, keluarga Surya melihat perumahan Graha Pratama, melihat pemandangan lapangan luas ditumbuhi rumput-rumput hijau, pepohonan dan juga patung-patung unik dan menarik benar-benar sebuah kota nuansa seni yang penuh kreasi. Melihat jalur bus Trans Citra Raya dengan berbagai jurusan central di wilayah jakarta dan sekitarnya membuat keluarga Surya makin tertarik, makin kebelakang makin padat penduduknya. Akhirnya Keluarga Surya memutuskan untuk membeli Rumah di Perumahan Citra Raya tersebut.

Bulan-bulan pertama keluarga Surya masih sering pergi ke Jakarta jika ingin liburan atau ke Mall. Rumah yang dibeli di Perumahan Citra hanya digunakan sebagai tempat istirahat yang nyaman saja. Namun tidak disangka di tahun kedua, ketiga dan seterusnya hingga sekarang sudah 8 tahun perkembangannya semakin pesat.


Dari mulai dibangunnya supermarket Giant, Cifest yang di sekitarnya terdapat banyak restoran dimana kita tidak perlu pergi jauh-jauh lagi untuk menikmati makanan seperti Mac. Donal, KFC, Bakso lapangan Tembak, Solaria, Hoka-Hoka Bento dan masih banyak lagi. Seperti Mardi Grass berbagai macam makanan kuliner disana, ada juga fasilitas pendidikan, fasilitas olah raga juga tempat rekreasi. Ada juga pembangunan tempat ibadah dari beberapa agama, disini memperlihatkan betapa kerukunan antar umat beragama dan berbagai suku yang tinggal di Perumahan tersebut benar-benar terjaga.

Pembangunan di bidang kesehatanpun tak ketinggalan juga yaitu dengan dibangunnya Ciputra Hospital. Fasilitas kebutuhan pokokpun terpenuhi dengan adanya City Market, juga ruko-ruko yang menjual berbagai macam kebutuhan hidup dan perlengkapan, baik keperluan sekolah, olah raga dan hiburan semuanya ada.

Keluarga Surya dan semua warga pemukiman di Citra Raya merasakan kenyamanan dan keindahan yang ada di sekitarnya apalagi dengan diluncurkannya Ecocultur pada tahun 2011.

Kini keluarga Surya sudah bertahun-tahun tinggal disana semakin jarang pergi ke Jakarta atau keluar kota bahkan  hampir tidak pernah keluar lagi dari gerbang Citra Raya, semakin hari semakin terasa nyaman, dengan udara segar, pemandangan yang indah, tentram dan damai. Semakin mengenal semakin sayang untuk meninggalkan tempat tinggal yang sekarang.



***