Rabu, 31 Desember 2014

SEMUA MENUJU SENJA
(Lanjutan...22 nov 2014)


Gadis cantik berambut panjang itu membawa Nenek Siti ke rumah kontrakannya. Nenek Siti tidak menyangka, ternyata masih ada gadis cantik yang perduli padanya di kota sebesar itu.
"Ini, rumah kontrakan saya, nenek boleh menginap disini untuk sementara besok kebetulan saya libur kerja bisa saya antar mencari alamat anak nenek!"
"Neng, terima kasih nenek sudah merepotkan neng cantik ini!"
"Tidak apa-apa nek,..!" 
"Nenek, duduk di teras dulu saya mau masuk sebentar". Riska segera masuk kedalam rumah, ia menuju kamar Marni temennya yang ternyata kosong. Riska akan memberi tahu Marni, agar Nenek bisa menginap satu hari di kamarnya.

Riska nama gadis itu yang tak lain adalah teman sekampungnya marni alias Merry. Merry kaget  begitu sampai di rumah melihat nenek Siti di teras.
"Nenek,..kok ada di sini?...nenek membuntuti saya ya? maaf nenek saya tidak bisa membantu nenek".
"Eh' si Neng,..saya..sa...".
"Sudahlah Nek,..sebaiknya nenek pergi saja dari sini soalnya ini juga bukan rumah saya".
Ketika Merry berusaha mengusir nek Siti, Riska teman kostnya segera muncul dari dalam rumah sambil membawa sepiring nasi dan segelas minuman.

"Hei, Mer..kamu baru pulang, gimana sudah dapat pekerjaan belum? Riska tersenyum melihat temen yang ditunggunya sudah datang.
"Sudah Ris,..tapi cuma sebagai baby sister..!"
"Bagus itu,.. mengurus anak-anak bukannya menyenangkan?"
"Apa..? Pusing tahu?
"Yang penting kan bukan bagian masak, nyapu, ngepel,..katamu, ya nggak?
"Iya, sih makanya mau kucoba deh".
"Nah, begitu dong harus berani mencoba!" Oya, Merry..kenalkan ini nenek Siti, boleh ya malam ini dia menginap di kamarmu?..soalnya kamarku penuh dengan barang-barang dan pekerjaan kantor".
Merry nampak terkejut, raut wajahnya menunjukan rasa tidak suka. Perlahan Merry menarik  tangan Riska lalu dibawa masuk, seperti akan menyampaikan sesuatu.
"Ris,..memangnya kamu kenal, sama gelandangan itu?"
Riska menggeleng. Merry semakin bersemangat untuk mengusir nenek tua itu, menurutnya ribet menampung nenek-nenek di rumah karena harus tanggung jawab, belum kalau tiba-tiba sakit, harus bertanggung jawab membawa ke rumah sakit. Merry menyarankan untuk menampung gadis muda saja, bisa di suruh-suruh membantu pekerjaan rumah.
Bersambung...


Sabtu, 22 November 2014

SEMUA MENUJU SENJA

Di perempatan patung pancoran Jakarta selatan, berdiri seorang nenek berusia 50 tahun, jalannya menggunakan tongkat, nenek Siti namanya. Ia baru datang dari kampung dengan berbekal sebuah alamat, hendak menyeberang jalan. Hujan begitu deras, di sebuah halte nenek Siti berteduh bersama beberapa orang yang berbondong-bondong ikut berteduh, beberapa orang di sampingnya nampak biasa saja, namun seorang gadis berusia 30 tahunan berwajah sederhana namun bertubuh indah nampak risih berdekatan dengan nenek Siti yang nampak berpenampilan kampung  dan  lusuh.

Gadis berusia 30 tahun, dengan penampilan modis itu bernama Marni, namun semenjak Ia tinggal di Jakarta Marni menamakan dirinya Merry. Merry, gadis lulusan SMA itu sudah 3 bulan menumpang temannya di tempat kost. Merry bermaksud untuk mencari kerja namun belum menemukan juga. Beberapa tawaran kerja datang tetapi hanya sebagai pembantu rumah tangga, pengasuh anak, atau penjaga warung sayur, Merry selalu menolaknya karena Ia merasa tidak pantas untuk bekerja kasar seperti itu. Merry menginginkan kerja di sebuah perusahaan, di restoran terkenal atau tempat-tempat yang menurut dia "WAH"...!

Sudah 5 perusahaan Merry datangi, tetapi tak satupun perusahaan yang menerima lamarannya jawabannya selalu sama yaitu "Tidak Ada Lowongan,..!"
Suatu hari Merry tanpa sengaja bertemu lagi dengan nenek Siti, Nenek Siti segera menyapa, "Eh' Neng ketemu lagi,..! Merry berusaha menghindar melihat penampilan Nenek Siti yang makin lusuh, namun sejujurnya bias-bias kecantikan di masa muda Nek Siti masih tersisa dan nampak jika Nenek sedang tersenyum. Di kampungnya dulu Nenek Siti memang di kenal sebagai bunga desa, namun nenek Siti tidak sombong dengan julukan itu, bahkan bersahaja.
Ketika terjadi letusan gunung berapi yang sangat dahysat di desanya, nenek Siti mengungsi hingga terpisah dengan anak semata wayangnya yaitu Danang. Danang yang waktu itu masih SD ikut penduduk yang  tinggal di pengungsian. ,Danang mengira ibunya sudah meninggal karena tertimpa longsoran gunung berapi, hingga Danang bersedia diadopsi anak oleh keluarga kaya di Jakarta.

"Neng...,saya Minta tolong untuk mencarikan alamat ini? nenek Siti mencari secarik kertas.
"Sa,..Sa,.ya, buru-buru nek, sama yang lain saja ya?" Merry segera berlalu dari hadapan nenek Siti. Nenek Siti terbengong dengan raut wajah kecewa.

Nenek Siti, terus melanjutkan perjalanan, perbekalannya sudah hampir habis namun anaknya belum juga diketemukan. Perasaannya mulai sedih, rasa lelah dan lapar mulai menyerangnya membuatnya putus asa. Di kota besar seperti metropolitan itu, Nenek merasa tak ada orang mau perduli dengannya, mungkin dirinya sudah dianggap semacam gelandangan atau pengemis liar sempat beberapa kali dia diusir jika berada di tempat yang terlihat bagus.
Nenek Siti berusaha menyeberang jalan,.tiba-tiba"..."Din-din-din,....Ciaatt..!! sebuah tangan menarik nenek Siti dengan segera untuk di bawa ke pinggir jalan. Sebuah mobil warna merah membuka kaca mobilnya muncul wajah anak muda sambil memandanginya, tanpa suara tanpa kata anak muda itu kembali menutup kaca mobilnya dan berlalu dari hadapan Nenek Siti.

"Lain kali kalau mau menyebrang, hati-hati Nek,..! Suara seorang gadis cantik berambut panjang itu mengingatkan. "Iya Nak, terima kasih sudah menolong saya!"
"Nenek mau kemana, ini sudah mau malam nenek sebaiknya pulang saja!"
"Justru itu Nak, saya belum menemukan alamat anak saya".
"Memang alamat rumah anak Nenek di mana?
Nenek Siti segera menunjukkan secarik kertas yang sudah mulai kumal karena genggaman dan cara penyipanan nenek yang asal-asalan yaitu hanya di selipkan kedalam lipatan kainnya.
Gadis cantik itu mengambil sebuah alamat lalu membacanya, setelah membaca gadis itu segera mengatakan bahwa alamat itu masih cukup jauh dari situ dan lagi jalanan macet, maka gadis cantik tadi mengajak Nenek untuk tinggal sementara di rumah kontrakkannya.

Bersambung...








Jumat, 07 November 2014

KAMPUNGKU KAMPUNG SANG JENDERAL


     Temaram sang surya mengukir senja, remang menjelang membawa insan ke peraduan. Angin sepoi menerpa jiwaku yang nelangsa, karena "Arjuna" kekasihku pergi jauh mengemban tugas negara ikut mengamankan negara bersama para gerilyawan Indonesia menuju ke kota Batavia.

      Di desa Rendeng Kabupaten Purworejo tempat aku lahir, merupakan Desa yang tenang dan tanpa gejolak kini di sebut sebagai kota pensiun. Tahun 1960, usiaku sudah 25 tahun merupakan usia yang sudah tua bagi seorang gadis perawan di kampungku. Namun aku belum menikah. kedua adikku Asih dan Atik yang berusia 23 dan 20 tahun itu masing-masing sudah punya kekasih. Aku mengiklaskan saja mereka menikah meski mereka tidak mau alasannya mereka tak sampai hati untuk melangkahiku. Kedua adikku mendesakku agar cepat menikah mereka sudah sangat malu menyadari kami yang biasa dijuluki "Tiga Dara" belum ada satupun yang menikah.

"Asih,..mbak nggak opo-opo kalau kamu mau menikah duluan!"
"Tapi,..Mbakk ..
"Wis nggak usah pakai tapi-tapian, besok panggil mas Bagus, kita atur waktunya nanti tinggal ngabari Bapak, ben bapak kondur,.jadi wali nikah kamu"
"Tapi,..piye mbak,njenengan..?
"Wis nggak usah piye-piye,..sing penting kowe ndang cepet nikah, mbak ikut senang!"
Akhirnya Asih menyetujui saja kehendakku. Asih langsung di boyong ke Batavia.

Selang Tiga bulan, Adikku Atik ikut kakaknya merantau ke Batavia dan kini tinggallah aku sendiri. Ibuku sudah lama Almarhum semenjak Atik berusia 3 tahun selama itu aku dan bapak mengasuh adik-adik bersama-sama. Bapak kerja di Semarang sebagai petugas pengairan sawah, sejak ibu meninggal bapak giat sekali bekerja meski harus berpindah-pindah tempat namun bapak jalani demi menafkai kami anak-anaknya,, sungguh perjuangan bapak luar biasa meski harus sendirian selama bertahun-tahun.

**

"Eni, ayo teruskan menulisnya,...! suara eyang wongso membuat aku tersadar dari lamunan.
"Oh, enjih-enjih eyang,..nyuwun pangapunten..! 
Aku meneruskan menulis sebuah surat. Eyang Wongso adalah majikanku, selain aku kerja di toko tak segan-segan aku di panggil oleh eyang untuk membantu semua keperluannya terutama dalam hal komunikasi dengan putra-putrinya yang jauh melalui surat atau kadang-kadang melalui pesawat telepon.

Eyang Wongso adalah Ibunda Jenderal Anumerta Ahmad Yani, kantor pusatnya di Batavia namun sering dikirim ke berbagai kota bahkan juga keluar negeri. Sejak dari kelas enam SD, aku sudah di panggil dan menjadi Assisten Pribadi eyang wongso. Eyang Wongso adalah pribadi yang sangat baik, ramah, tidak sombong dan sangat dermawan terutama pada rakyat kecil, selain aku ada empat orang lagi yang mengurusi eyang, ada bagian masak, bagian nyuci, bagian nyapu dan tukang kebun, aku bagian surat-menyurat beliau sangat baik dengan kami semua sehingga beliau sangat disegani dandi hormati  di kampung Rendeng bahkan di kalangan kabupaten semua sudah sangat mengenal beliau sebagai ibunya Jendral.

Eyang Wongso sebagai pribadi yang sangat tegar terbukti ketika anak lelaki kesayangannya menjadi korban penculikan dan di bunuh di malam G30 SPKI, beliau tidak menangis atau meneteskan air mata namun kelihatan sekali dalam tatapan matanya yang kosong ada kesedihan yang teramat dalam.
Eyang masih mampu tersenyum menyambut para pejabat kabupaten dan beberapa pejabat penting negara mengucapkan turut berbela sungkawa. Eyang sudah sangat menyadari profesi anaknya di bidang kemiliteran memang resikonya sangat berat namun Eyang sangat bangga dengan tekad anaknya untuk membela negara meski harus berkorban jiwa dan raga, eyang selalu mendukung apapun yang dicita-citakan anaknya tercinta karena memang cita-cita itu mulia.

Sore itu Eyang memanggilku, dan aku segera menghadap aku pikir eyang menyuruh aku menulis surat atau menyuruhku untuk membaca sebuah surat namun ternyata bukan dan aku terkejut,
"Eni, ada telepon itu dari pacarmu,..wah..sudah punya pacar tho..! Eyang menggoda membuat aku menjadi malu. Aku segera bergegas menuju ke ruang tengah, dan benar juga suara seseorang yang sudah lama sekali aku rindukan.
"Selamat sore,..!
"Njih,.Njih, Selamat sore,..! Aku tergagap sambil tersipu malu.
Tiba-tiba...suara telepon di seberang sana berubah nyanyian...rupanya mas Arjuna menyanyikan lagunya Broery Marantika berjudul Ijinkan Aku Pergi.
"Ijinkan aku pergiii.....apalagi yang engkau tangisi,..semogalah penggantiku dapat lebih mengerti hatimu,..Memang berat kurasa,..meninggalkan kasih yang kucinta,  namun bagaimana lagi, semuanya harus kujalani,..selamat tinggal kudoakan,..kau selalu bahagia...hanya pesanku jangan lupa kirimkan kabarmuu,,,Bila suatu hari dia membuat kecewa di hati, batin ini takkan pendam mendengarmu hidup menderita,.Selamat tinggal kudoakan kau selalu bahagia...".
Tanpa terasa airmataku menetes, akupun sesenggukan.

Lagu itu lagu terakhir yang dinyanyikan mas Arjuna untukku, aku tak mengerti kenapa mas Arjuna tega-teganya memutuskan tali kasih ini.Selidik punya selidik ternyata telah terjadi salah paham, tanpa kuketahui ada seorang laki-laki yang selama ini membuntutiku bahkan selalu menungguku jika aku sedang bekerja di Toko. Lelaki asing itu selalu mengikuti kegiatanku sejak aku masih di rumah, berangkat ke toko sampai pulang dan juga aku ke rumah Eyang. Aku tidak pernah tahunamun Mas Arjuna ternyata lebih tahu siapa laki-laki itu yaitu salah seorang pegawai Puskesmas di kecamatan Gebang. Walaupun Mas Arjuna bertugas di Batavia tetapi mas Arjuna punya mata-mata juga di sini.

Diam-diam laki-laki yang belum kuketahui namanya itu sudah menemui bapakku dan berniat melamarku, hal ini di ketahui oleh mas Arjuna, padahal aku sama sekali belum menganalnya namu mas Arjuna telah salah paham dan mengira bahwa aku telah menerima lamaran itu.

Hingga kudengar kabar, setelah pimpinan Mas Arjuna meninggal yaitu Bapak Jenderal Anumerta Ahmad Yani, Mas arjuna di pindah tugaskan ke luar jawa dan kabar terakhir, Mas Arjuna menikah dengan gadis sebarang...pupuslah sudah harapanku...aku jatuh sakit,..dan sempat di rawat hampir sebulan di rumah sakit tentara Purworejo,...aku mengindap penyakit usus buntu sehingga harus di operasi, adik-adikku yang sudah punya anak kecil-kecil tak sempat menungguku di ruma sakit, Bapakku juga sangat sibuk sehingga hanya sesekali menengokku di rumah sakit, namun Eyang sudah memasrahkan aku pada seorang suster,.dan ternyata sosok misterius itu akhirnya muncul, dia dengan sabar menungguku di rumah sakit siang malam menjagaku di rumah sakit,..dia Adalah Anton yang selama ini membuntutiku dan membuat Mas Arjuna meninggalkan aku.

Rasa kekecewaan masih kurasa sehingga kesal melihat sosok lelaki itu,..bertahun-tahun aku terpuruk dalam kesedihan, adik-adikku semua sudah menikah dan punya anak, ayah semakin tua dan usiaku sudah kepala 3, semua orang sudah menebutku sebagai perawan tua, melihatku yang masih sendiri membuat ayah sedih dan mulai sakit-sakitan, agar ayah senang, akhirnya di usiaku yang ke 32 tahun akhirnya kau menerima lamaran lelaki asing itu yang mengaku sebatang kara.

Mungkin benar pepatah "Witing Tresno Jalaran Soko Kulino" lama-lama aku dapat mencintai mas Anton, dan aku melahirkan empat orang anak, 2 laki-laki dan dua perempuan, tanpa kuduga ketika anak-anakku remaja, keluarga besar Mas Anton datang semua berasal dari kota mereka sangat bahagia bertemu saudaranya kembali setelah terpecah-pecah akibat perang dan kerusuhan yang terjadi di tanah air. Kini aku hidup bahagia di kampung Rendeng, kampung sang Jendral. jika mengingat sang jenderal akan mengingatkanku pada sosok Mas Arjuna,..yang telah membuat luka, kini aku akan melupakannya demi masa depan anak-anakku tercinta.

                                                                 *******



Senin, 27 Oktober 2014

HIJRAH

Jika suatu keyakinan sudah memudar, bersama daun-daun kering yang berguguran. Dan jika hati tertata rapi dalam sepi dan kebisuan yang semakin panjang menenggelamkan kedalam sumur mati penuh keterasingan. Dan jika tiada lagi kehangatan rasa dalam jiwa, serta langit-langit jiwapun tertutup kabut hingga tak nampak suatu cahaya bersinar disana. hanya keresahan yang membelenggu kalbu, mengapa engkau masih bertanya? kenapa bumiku sendu?...

Langkahmu santai namun lunglai....ke danau itu,...danau kering di padang luas,..diantara pohon-pohon tua yang telah hangus terbakar...oleh api cemburu,..yang membelenggumu hingga beku..!!
Dan kau masih duduk meratap dengan tatapan kosong diatas batu tua,..yang menganga menahan panas sinar matahari,..dan engkau kembali berjalan dengan kakimu, dengan tanganmu, dengan punggungmu, dengan kepalamu...untuk mencari air..air kehidupan yang tak pernah kau temukan, karena kau hanya berputar-putar di hutan terbakar...hingga mata nanar dan terkapar...

Sadarilah,..engkau sebenarnya hanya berjalan dengan pikiranmu, hingga kelelahan mampu meluluh-lantakkan jiwa raga. Dan ketika malam tiba,..entah ,malam yang keberapa juta bulan, engkau terpikir untuk ber-HIJRAH", dengan semangat membara, hasrat bergelora, harapan seakan didepan mata untuk mencari air kehidupan, mencari keindahan pemandangan mencari kedamaian hati, mencari kesejukan sebuah danau, mencari keramahan penduduk dengan segala dunia baru engkau ingin menyatu, bangkit dan tinggalkan masa lalu...menunggu pagi seakan semua berseri...

Dan ketika pagi tiba, kau terjaga...dari tidurmu diatas batu tua,...ketika kaki hendak melangkah namun..kadua kakimu telah lumpuh,...sedikitpun tak dapat kau gerakkan,...berjuang dan terus berjuang sekuat tenaga namun kegagalan selalu yang diterima....harapan sirna,..mulutmu tak sanggup lagi berteriak,..semua telah pergi tinggalkan engkau yang berhati batu...untuk langkahmu..yang selalu ragu,..bertahan di hutan tanpa harapan....kini penyesalan hanya tinggal penyesalan..!
Ingatlah,..Hijrahmu terlambat,..saat engkau kuat...!!!


Selasa, 21 Oktober 2014

KUGENDONG KAU KE SURGA

Kau memang tidak terlalu cantik namun kau menarik dan tidak membosankan, gaya bahasamu yang polos bahkan terkesan culun, bagi sebagian orang yang tidak suka, kamu dibilang bodoh karena memang suka agak Telmi..he..he..he, maaf. Namun bagiku kau luarrr biasa.

Kubaca sejarahmu,  sebagai gadis pendiam dari keluarga sederhana tinggal di desa, namun aku tahu keluarga ayahmu hampir semua ada di kota besar dan akupun tahu siapa saja mereka.

"Arneta Marbela",..itu nama pemberian ayahmu. Karena engkau tinggal di kampung teman-temanmu suka memanggilmu  "Mar,..atau si-Mar,.." Apapun panggilan mereka engkau tetap menerima saja. Ketahuilah aku memanggilmu "Bela  si- Bidadari Surga"

Sifat ayahmu yang otoriter, keras membuat tetangga tak begitu akrab dengan keluargamu.
"Bela,..siapa sih pacarmu? Tanyaku ketika bertemu. Dengan malu-malu kamu hanya menggeleng. Begitu lulus SLTA kamu sudah langsung bekerja hinga 3 tahun dan selama ini orang sekampung tidak pernah mendengar siapa nama pacarmu.

Semua temanmu, Ani, Siti, Yati, Tuti, Wati  pernah mempunyai kekasih tetapi hanya kamu yang selalu sendiri. Kesendirianmu memicu prediksi orang lebih menyedihkan lagi, kamu dianggap sebagai gadis yang tidak normal karena sampai usia dewasa tidak pernah mengenal cowok. Beberapa ejekan sempat dilontarkan padamu, bahkan Ani temanmu yang paling jago menaklukan banyak cowok, menawari bekas pacarnya untuk diberikan padamu karena si Ani sudah punya gebetan baru. "Masya Allah" sungguh memprihatinkan masa remajamu. namun bagiku kau tetap menganggumkan, kau tetap pendiam, mengalah dan sabar menerima semua ejekan itu.
Kau merantau ke kota,...disana di saudara kaya, namun kau tetap sederhana kau juga tidak memanfaatkan kekayaan saudaramu. Bela, engkau tetap bersahaja dengan tampilan pakaian barumu yaitu berjilbab, meski di kampung kau sempat diejek dengan jilbabmu itu namun sampai di kota engkau tetap memakainnya.

Bela tak tahukah kau bahwa diam-diam aku mencintaimu, bersaing dengan seorang sahabatku sampai akhirnya dia menyerah sebelum mengatakan cinta padamu karena kami tak pernah berani mendekatimu,..entah kenapa? padahal kau tidak galak,  tidak judes dan tidak sombong tetapi kenapa aku juga nggak berani mendekatimu?

Bela, Tujuh tahun engkau merantau ke Jakarta dan bekerja di berbagai macam bidang pekerjaan. Dua tahun Engkau di sebuah penerbitan majalah, satu tahun engkau kerja di sebuah sekolah, engkau juga pindah lagi bekerja yang akhirnya di sebuah perusahaan kontraktor, engkau tinggal di sebuah rumah kost yang terkenal dengan sebutan "Tempat kost Tante Wanda"..aduuh' Bela kenapa engkau kost di disana? Ketahuilah Bela, aku sempat mencemaskanmu sehingga akupun membuntutimu dan tinggal tak jauh dari rumah kostmu.

Aku selalu menerima berita tentangmu,..engkau yang tidak berubah meski bergaul dengan gadis-gadis cantik berpenampilan masa kini. Jilbabmu tak pernah kau lepas meski di sekitarmu berseliweran teman-teman kostmu dengan rok mini, sepatu hak tinggi ataupun dengan celana-celana ketat. Hanya sekata dan dua patah kata yang suka kau ucapkan untuk sedikit menasehati teman-temanmu selebihnya adalah contoh yang engkau berikan.

Beberapa temanmu yang tidak suka meledekmu dengan sebutan "Ustadjah lelah" karena ada embel-embelnya 'Perawan Tua", padahal usiamu baru 27 tahun. Engkau hanya tersenyum saja dengan ledekan itu. Ada beberapa temanmu yang akan menjodohkanmu, karena mereka yakin dengan kamu tahu dan mengenal cinta sendiri tak akan berani lagi menasehati mereka. Sebenarnya kamu tidak menasehati hanya ingin mengingatkan namun justru niat baikmu menjadi bumerang bagi dirimu sendiri.

Sementara itu di luar lingkungan sekitar, engkau mendapat predikat buruk juga akibat tinggal ditempat kost yang tergolong bebas. Bela.. secepatnya kamu harus keluar sebelum kejadian yang tidak diharapkan menimpamu karena firasatku berkata begitu.

"Bela, Kamu mau kemana?" tanyaku ketika melihat Bela keluar kost dengan membawa tas besar. "Aku, mau pulang kampung mas,..lho mas Iksan kok ada di sini? Bela terheran-heran melihatku. Bela tidak pernah tahu bahwa aku adalah keponakan Bosnya tempat dia bekerja.
"Mas Iksan, teman abangku di kampung dulu ya? teman SMA? Aku mengangguk.

Sebelum sempat pergi, beberapa teman kostmu keluar dan memarahi dan memaki-makimu. Bela rupanya kamu dituduh merebut pacar salah seorang teman kostmu yang paling centil. Mas Bagas anak bungsu dari pemilik kost yang paling ganteng dan digandrungi semua anak kost, itu sebenarnya hanya menitipkan kunci kamar pada Bela, untuk kamar kosong yang akan ditempati oleh penghuni kost baru namun semua telah salah paham dan berkat laporan semua anak kost akhirnya Bela dikeluarkan dari tempat kost,..dengan tuduhan yang menyakitkan,...namun Bela, engkau justru mengucapkan "Alhamdullilah",...karena engkau menyakini bahwa semua yang terjadi adalah kehendak Allah yang terbaik. Yah...aku rasa juga lebih baik begitu, karena memang beberapa teman kostmu, aku telah mengenalnya,..seperti apa kepribadian mereka, sebaiknya tinggalkan saja Bela.

Predikat 'Perawan Tua' yang melekat di dirimu tidak pernah membuatmu malu atau patah semangat begitupun ketika engkau dituduh sebagai cewek yang dan bodoh tidak laku engkau tetap tersenyum, aku benar-benar salut karena engkau penuh rasa percaya diri,..bahwa suatu hari nanti jodoh pasti akan datang padamu jika waktunya sudah tiba.

Bela  atas nama Allah, aku yakin siapa dirimu dan apa yang telah kau lakukan, kau hanya menjalani takdir dengan iklas,..kau tidak pernah dendam atau membalas sakit hati yang sering engkau rasakan semua kau serahkan pada Sang Pencipta.

Bela,..kini saatnya dengan segala keyakinan dan kepercayaanku aku akan maju untuk melamarmu. mari kita buka lembaran baru, kita lupakan masa lalu menyongsong hari baru. Dan semua tercengang ketika langkahku dengan pasti membawamu di pelaminan, aku akan merubah semua penderitaanmu menjadi kebahagiaan, semua airmata dukamu menjadi airmata bahagia. "Bela kau adalah bidadariku" ijinkan aku menjadikanmu seorang istri, karena wanita sepertimulah yang aku cari selama ini.

Bela, setelah kita mengucap ijab Qobul ternyata engkau benar-benar masih 'bodoh',..he..he..he maaf,...namun bagiku engkau tetap luar biasa,..sekarang aku adalah gurumu. Sekarang aku siap mengajarimu. Setelah engkau mengetahui apa itu Neraka dunia kini saatnya aku akan mengajarimu tentang surga dunia,...Mari Bela,.."KUGENDONG KAU KE SURGA...!!!"



Senin, 15 September 2014

BAYANGAN

Tak pernah muncul dialam terang, selalu berada di remang-remang. Seperti burung merak yang cantik "Rasamu", hidup sempurna  bagai di dalam nirwana  ..sungguh menakjubkan,.! wajahmu hitam ataukah putih? coba kau keluar di siang hari, agar sang mentari memantulkan sinarnya dan memperlihatkan sosokmu yang nyata. Seperti burung merak "Rasamu", berbulu indah dan cantik, seluruh alam senantiasa tertarik. Seperti burung merpati "Rasamu" berbulu putih berperingai lembut sebagai lambang cinta suci dan setia, tiada pernah ternoda dalam dunia kau tunjukkan alam surga dan semua terpesona.

Dan ketika halilintar menggelagar sepanjang siang dan malam, hujan berhari-hari terus menerus datang,..seakan menutup semua makluk dalam mencari penghidupan, gelap sunyi dan sepi,..air menggenang di sana-sini,...hingga hujan lelah sendiri,..banjir membawa mahluk-mahluk terapung tak bernyawa,..hingga tersingkir di padang pasir, menjadi bangkai..! tak tahan akan rasa lapar sebuah bayangan bergegas datang, sosok bayangan lupa bahwa itu hari siang,..sepasang mata yang sendiri mampu melihatmu, tengah lahab memakan bangkai,..rupanya sosok bayangan itu adalah burung gagak hitam yang tengah kelaparan....!
HUJAN

Jatuh begitu saja, hanya memberikan sedikit tanda warna gelap di langit, kadang hujan bisa datang begitu saja meski bukan musimnya. Namun hujan di musim kemarau yang turun sesaat mampu mendatangkan bias warna yang indah,..yang membuat balita-balita berseri berlari-lari lalu mendedangkan lagu "Pelangi-Pelangi". Wajah-wajah dewasa yang lelah silakan memaki di setiap musim hujan yang banjir dan musim kemarau yang kering,..tak pernah ada rasa syukur dalam diri hanya bisa memandang dan memungut makna negative dari sebuah arti hujan...! mari belajar pada balita, yang mampu memaknai rasa syukur atas segala yang di limpahkan oleh Sang Maha Pengatur.