Selasa, 11 September 2018

Lanjutan...LASKAR MENTARI



     Bu Nia terus memandu acara pagi itu dengan penuh semangat. Bu Julaikhah dan bu Nurul masing-masing membawa satu anak baru dalam gendongan turut bergabung.
"Alhamdulillah, ananda Tio dan ananda Zahra sudah mau bergabung mari kita kasih tepuk tangan teman-teman, Plok ! Plok ! Plok ! Serentak anak-anak bertepuk tangan.

     Tak begitu lama dari pintu gerbang  ada dua orang tua murid datang mengucapkan salam. Anak-anak dan semua dewan guru menoleh. Seorang anak dalam gendongan mamanya nampak menyembunyikan wajahnya. Bu Nia memanggil bu Dina bahwa itu salah satu calon murid didiknya. Bu Dina segera bergegas  untuk menyambut kedatangan seorang anak down syndrome.

     "Maaf, si ganteng siapa namanya?  Assalamu'alaikum-nya mana?
Sekilas bu Dina bisa melihat dari raut wajahnya nampak jelas sebagai anak yang berkebutuhan khusus. Tubuhnya gembul pendek, dengan tatapan mata yang berbeda dan alis mata yang bertautan kanan dan kiri. Bicaranya belum begitu jelas meski usianya hampir 5,6 tahun. Anak tersebut tidak mau turun dari gendongan. Bu Dina dan Bu Nurul berusaha menurunkan tetapi pegangan tangannya sangat kuat sambil berteriak-teriak mengajak pulang mamanya.

     "Ah, Ih, Uh, mah...ulang, yo mah ulang !".
     "Thoha, katanya mau sekolah mau jadi anak pinter, turun dong ! Ini sudah sampai di sekolah. Mamanya berusaha membujuk. Toha tetap lengket dalam gendongan mamanya.
Bu Nurul mmeberi kode bu Dina agar mengerahkan tenaga melepaskan  Thoha dari gendongan mamanya.

     "Ah, Ih, duh..awas mah ulang, awas ulang mah !". Thoha terus meronta. Bu Dina dan bu Nurul berhasil melepaskan dan berpindah ke gendongan bu Nurul. Bu Julaikhah turut membantu mengangkat menuju ke Mushola bergabung dengan teman-teman yang lainnya. 

     Bu Dina tidak jadi beranjak pergi karena mama dan papa Thoha masih mengajak berbincang-bincang.
     "Anak saya bu, kalau main keluar rumah suka ada temennya yang mengejek sehingga jarang bersosialisasi.
     " Maaf ya mama dan papa, kalau boleh tahu awalnya kenapa ya?
    " Itulah bu Guru, dulu ketika masih bayi sempet kejang terus kena penyakit kuning padahal sudah saya bawa ke rumah sakit, nyawanya bisa tertolong tetapi akibatnya jadi begitu, waktu hamil dulu saya sempet nggak tahu sehingga saya makan apa saja sampai menginjak usia kehamilan 8 bulan baru saya tahu, tetapi lahirnya sehat dan normal. Entah kenapa sekarang jadi begitu mohon dimaklumi bu guru ".

     "Mama dan papa yang sabar ya, kita harus tetap sayang. Semua dewan guru disini memaklumi, kok !
      " Terima kasih bu guru,kalau begitu kami langsung pamit, Assalamaulaikum..".
Setelah membalas salam dari wali murid, bu Dina menutuppintu pagar. Bu Dina bergabung ke Mushola. Acara Materi pagi itu dilanjutkan dengan sholat dhuha bersama-sama.
      Bu Nurul tidak berhasil membujuk Toha yang tetap dalam posisi menungging, iameminta tolong bu Dina.Bu Dina mendekati Toha lalu berbisik ke telinga Toha.
     "Toha, lihattt...ada semut ! Ya ampuun, semutnya berjalan menuju ke dalam peci Toha,semutnya banyak sekali, hati-hati digigit lho,..hiii.....!
Toha mengangkat wajahnya sebentar lalu disembunyikan lagi. Ia seperti tidak takut dengan semut-semut itu.Bu Dina melanjutkan kata-katanya.
       "Toha, tidak takut sama semut? wah hebat, kalau begitu bu guru minta tolong. Toha usir semut-semut itu biar teman-temannya tidak digigit,..hmm ada berapa ya yang masukke dalam peci Toha,ayo dihitung ! satu, dua,tiga,empat,lima...waaah buanyak!
Toha mulai bergerak-gerak, lalu mengangkat wajahnya sambil matanya melirik kesana-kemari mencari sesuatu. Ketika Toha sudah mulai duduk tegak,bu Dina justru menyuruh Toha untuk memasukkan mukanya kedalam peci lagi tetapi si Toha justru tidak mau. Disaat seperti itu bu Dina langsung membetulkan letak duduk Toha dalam posisi dipangku agar duduknya tepat dalam lingkaran.



















Minggu, 09 September 2018

LASKAR MENTARI

Lomba Cerita Anak
Penyelenggara : IGRA (Ikatan Guru RA) dan Golden Talent Tangerang.
Peringkat Juara : 1 Tahun 2016




LASKAR  MENTARI


     Bel tanda masuk berbunyi. Hari pertama masuk sekolah di tahun ajaran baru 2016-2017 RA Al-Muslimin. Sebuah sekolah dengan ruang kelasnya berbentuk saung, sehingga sambil belajar anak-anak tetap dapat menikmati pemandangan alam sekitar dan menghirup udara segar langsung dari alam bebas. Berbagai macam alat-alat permainan berada diantara bunga-bunga dan pepohonan dengan suasana yang cukup asri.

      Bu Dina, guru baru yang ditunjuk sebagai guru anak-anak inklusi atau anak-anak ABK mulai mengumpulkan anak-anak di teras rumah bunda pemilih yayasan yang biasa di sebut mushola. Karena disitulah nantinya anak-anak melakukan kegiatan berdoa, menghafal hadist-hadist, surat-surat pendek dan terutama sebagai tempat melakukan kegiatan sholat Dhuha bersama-sama.

     Bu Julaikha sebagai guru kelas anak-anak Paud nampak kewalahan membujuk anak-anak baru yang harus berpisah dengan orang tuanya. Beberapa anak menangis, meronta-ronta, bu Nurul segera membantu. Seorang anak kabur berlari keluar gerbang sehingga melibatkan bu Uswatun Hasanah selaku kepala sekolah ikut terjun menangani anak tersebut. Alhamdulillah bu Uswatun bisa membujuk dan membawa Alya masuk. Pemandangan pertama masuk sekolah sudah biasa bagi dewan guru yang memang sudah berpengalaman.

     Bu Nia mulai mempersiapkan anak-anak dalam kegiatan "Semangat Pagi" yang diisi  dengan baris dan bernyanyi bersama. Dalam masa MOS selama satu minggu anak-anak semua kegiatan belajar dan bermain ditempat yang sama. Bu Dina ikut bergabung dan membantu merapikan barisan anak-anak sembari membaca satu persatu name tag yang tertera di baju anak-anak. Bu Dina mendapat mandat untuk menjadi wali kelas special need kids alias anak-anak inklusi yang menurut informasi ada 3 anak. Thoha seorang anak down syndrome, Alif  terkena Autis dan Zidan seperti gejala autis tapi lebih cenderung ke Dialeksia atau malah gift child dia pandai, linguistiknya sangat bagus dengan dialek bahasa inggris yang sangat fasih, namun susah menggunakan bahasa indonesia. Sehingga harus lebih sering diajari mengunakan bahasa Indonesia agar bisa bergabung dan bermain dengan teman-teman sebayanya, begitu info yang bu Dina dapat.

     Bu Dina mndekati bu Nia, guru senior di sekolah tersebut. 
"Maaf, Bu Nia, anak-anak ABK pada kemana ya? Kok belum kelihatan?".
Bu Nia terdiam sejenak lalu menyapu pandangan ke seluruh halaman.
" Sepertinya belum ada yang datang bu Dina, sebaiknya ibu bantu saya saja untuk mengisi kegiatan Semangat Pagi !".
Bu Dina mengangguk seraya bergabung dengan anak-anak yang manis dan lucu-lucu itu. Mereka nampak gembira bernyanyi dan berkumpul membentuk lingkaran.

"Hello, hello..hello apa kabar?
"Baik,...baik,..kami semua begitu "
"Assalamaulaikum, muslim apa kabar?
"Baiiik..!" Jawab anak-anak muslim serentak.
"Assalamualaikum, Muslimah apa kabar?
"Baiiik..! Jawab anak-anak muslimah serentak.
"Assalamualaikum, assalamualikum, semua apa kabar?
"Baiik...! Semua menjawab dengan serentak dan semangat.









Bersambung......>



     











Jumat, 07 September 2018


KEPADA SAHABAT KECIL


Petir menggelegar sepanjang hari, mendung menggantung sejak dini berakhir dengan hujan lebat...deras sederas air mataku dan air matamu. Walau engkau disana dan aku disini namun ketahuilah sahabat, hatiku selalu berusaha mendekati hatimu. Aku tahu... ada benteng tebal dan tembok raksasa diantara kita yang selalu kau ciptakan. Bertahun-tahun sudah aku berusaha menghancurkan namun kau ciptakan kembali benteng itu sedingin dan setinggi gunung es, hingga aku lelah dan menyerahkannya kepada Yang Kuasa.

Sahabat,..
Semua berubah semenjak kita berjumpa di Plaza Semanggi Jakarta tahun 2006. Masih kuingat, wajah cantikmu, suara lembutmu, ucapan-ucapanmu, rangkaian kata-katamu bahkan titik komanya, aku ingat ! semua bagai godam panas yang memanaskan telingaku, membakar hatiku !! apa daya mulutku terkunci, aku tak pandai berkata-kata dengan segera. Aku tak pintar berbicara dengan cepat. Aku membisu namun hatiku bergejolak hebat ! kusadari kecepatan respon di telinga, hati dan pikiranku lebih cepat dari pada kecepatan mulutku bersuara.
Hingga sikap diamku terlihat seperti suatu kebodohan dan kekalahan,..aku tahu itu, namun apa daya mulutku tetap tak mampu mengeluarkan suara walau hanya sepatah kata.

Sahabat..
Seketika bahteraku goyah oleh rangkaian kata-katamu..
Dia pergi tanpa sepatah kata...meninggalkanku dan "Matahariku" waktu itu, kepercayaan kami teruji oleh mulut embermu. Dan ketika aku bangkit dan suaraku sudah terkumpul kau dengar suara "Duaar..!!! itu suara hatiku berisi kejujuran...dan kau terkejut hingga berlari tunggang-langgang lalu memutuskan tali silaturahmi. Bertahun-tahun dan aku yang selalu berusaha mencairkan padahal usiamu lebih muda dari aku. Aku berusaha memdekatimu bertahun-tahun kau tak perduli hingga aku selalu terlihat di posisi yang paling bersalah dan kamu selalu benar, suara lembut dan wajah cantikmu membuat semua orang lebih percaya padamu.
Kenapa persahabatan ini bisa terjalin tetapi aku seperti tertekan?
Karena hanya aku yang harus memahami kamu, mengerti kamu, mendengarkan kata-katamu, mengikuti instruksimu,  memenuhi keinginanmu? dan kamu tidak ! mengapa? 

Sahabat..
Kesendirian sempat harus kualami, tanpa dia dan tanpa siapa-siapa yang perduli denganku dan nasibku baik di kampung atau di kota metropolitan kecuali keluarga kampungku. Bersama "Matahariku" kucoba ciptakan kebahagiaan sendiri dan berserah diri kepada Yang Kuasa. 
Hingga suatu saat Dia kembali lagi dengan sendirinya kepadaku disaat aku ingin pergi jauh, dan melupakan tentang dia dan kamu.

Sahabat,..
Beranikah kita sama-sama jujur...
Awal mula persahabatan kita semestinya tetap indah, namun sifat dasarmu sebagai penguasa itu terkadang membuatku lelah, ini memang salahku tak berani mengatakan sejak dulu, kenapa?
karena aku takut kau putuskan persahabatan lebih dini. Aku tahu itu yang akan kau lakukan jika aku jujur.
Dan benarkan, kejujuranku telah membuatmu pergi.
Aku tersadar  ternyata persahabatan kita benar-benar tidak berarti.
Maaf jika akhirnya aku melupakan dan aku merasa terbebas dan lepas.

Dunia mulai mencium ketika hubungan kita renggang bahkan putus. Entah apa yang kau katakan pada dunia ketika aku tak lagi berada dibawah telapak kakimu.
Maaf jika aku menebak rangkaian kata-katamu "Negative" apalagi dengan takdir yang menimpaku, karena kurasakan semua berubah membenciku, meremehkan aku, memfitnah aku dan segala hal yang terburuk memvonisku.

Sahabat..beranikah engkau jujur,..
Kita urai kenapa aku menjadi seperti ini?
Jika aku terlihat bahagia, namamu yang akan di puji bahwa semua itu berkat "Pertolonganmu"
Namun jika aku terlihat sengsara dan menderita semua akan mengatakan aku "Kualat" padamu.
Itu dunia kampung kita dan kota kita yang semua sudah lebih percaya padamu.

Sahabat,...kau tahu kutulis rangkaian kata ini dengan deraian airmata..
Mari jujur..
Masih ingat engkau "Minta Tolong" aku menggantikan posisimu? di perusahaan itu?
Kau tahu, kau tak bisa di tolak?
Bagaimana aku tiap hari di caci maki bos kamu. Bos yang "sangaaat dekat" denganmu.
Bagaimana aku mendapat instruksi dari kamu untuk memberikan setiap clien-clien yang menghubungi perusahaan untuk di pindah ke perusahaan kamu? aku juga dapat instruksi dari kamu kapan harus datang ke kostmu dan kapan harus pulang?
Aku dikatakan bodoh oleh bos aku yang juga bos kamu, dan kamu tetap asyik memanfaatkan kebodohan aku.

Kau tidak pernah bertanya bagaimana hatiku? sedang bahagiakah? sedang sedihkah?
Kau Tahu ketika aku bertemu denganmu kembali, aku sedang labil, hatiku sedang hancur.. karena "Disvorce"..saudara jauh, orang tua jauh kau tumpuhan satu-satunya.

Sahabat,..akhirnya kau pergi meninggalkan perusahaan "Habis manis sepah kau buang"..sepah itu kau berikan padaku.
Perusahaan sepi tanpa clien, dan aku menjadi sasaran kemarahan mantan bos kamu yang akhirnya menjadi bos aku.
Namun rejeki Allah yang atur, clien-clien baru muncul hingga perusahaan mampu bertahan hidup.
Kau masih menghubungi aku kalau-kalau ada sisa Clien yang mencari nama kamu harus diberikan padamu.
Aku bilang ingin resign, tetapi kamu melarangku dengan ancaman "Putus Persahabatan" itu kata-kata yang selalu aku takutkan jika keluar dari mulutmu.
Hingga aku menuruti kata-katamu lagi. Aku hanya berdoa kepada Allah agar mampu bertahan sampai batas waktu aku boleh resign sesuai waktu yang diberikan olehmu. Jadi Bos aku itu kamu atau Dia?...
Waktu berjalan membuat suasana berubah 180%, tak pernah terpikirkan olehku.
Kau tahu sendiri akhirnya bagaimana? aku pulang kampung dan lagi-lagi aku jatuh oleh rasa iba yang tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata.
Dan ketika aku "Jatuh" dan kecuranganmu terbongkar oleh mantan bos kamu? Kamu menyuruhku untuk membantumu kembali...
"Hello, aku sudah jatuh masih harus membantumu?"
Disini gunung esku meledak menjadi bara api..."Duaarr...!!!
Kau kaget dan memutuskan tali silaturahmi. 
Kisahmu belum selesai 
Kau lempar batu sembunyi tangan, kepada dunia. 
Sempurna. !

Tangerang 8 Sepetember 2018.































Minggu, 08 Juli 2018

Filosofi Embun Pagi


Embun hanyalah uap-uap air yang berkumpul menjadi titik air. Embun muncul pada suhu yang cukup dingin dengan kondisi yang tenang. Malam hari adalah kondisi yang cukup dingin dan tenang bagi uap-uap air membentuk titik air. Kondisi menurunnya suhu udara pada tengah malam menuju dini hari menyebabkan uap-uap air berada di titik jenuh. Titik Jenuh akibat penurunan suhu ini kita sebut sebagai titik embun.

Embun memiliki filosofi yang bagus, jika kita renungkan secara mendalam. Embun, adakah yang lebih indah dari kilau beningnya? Embun akan selalu hadir di pagi hari walaupun disaat musim penghujan maupun musim kemarau. Embun adalah titik jenuh yang terkendali, menyatu dalam satu misi memberikan kesegaran di hari yang baru. Betapapun panasnya musim kemarau. Embun pagi tak akan pernah ingkar janji untuk selalu hadir menyambut mentari pagi.

Hadirnya embun sebagai pertanda akan janji Allah SWT kepada seluruh isi dunia bahwa akan ada pergantian setelah hitam kelam malam akan datang hari baru yang terang benderang. Embun pagi ini bukanlah embun yang kemarin, embun kemarin sudah hilang lenyap terbakar sinar matahari. Embun di setiap pagi hari menunjukan hari-hari baru yang menyegarkan yang penuh harapan.

Embun pagi laksana  hati manusia yang pada hakekatnya adalah bersih dan suci. Kepercayaan dan kejujuran yang tertanam di hati manusia akan tetap terjaga jika visi-misinya sebagai Mahluk ciptaan Allah SWT tetap  terjaga dan terkendali.  Alam dan lingkunganlah yang terkadang menghancurkan dan mengotori isi hati manusia juga kendali iman yang lepas. Visi-misi manusia dan dunia adalah menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Sedangkan visi-misi syetan adalah menghancurkan visi-misi manusia sebagai mahluk Tuhan. Syetan meyelinap di tengah-tengah lingkungan sekitar kita, dan berada di Alam Raya  hidup bersama manusia.
Mari jaga iman dan embun pagi yang ada di dalam hati kita. Agar selamat di dunia dan akherat.
(self reminder)

Citra, 8 Agustus 2018.








Kamis, 05 Juli 2018

KEJUJURAN


Sebuah kata yang mempunyai nilai sangat tinggi dalam sebuah hubungan. Namun kata itu mudah diucapkan sulit untuk dilakukan oleh sebagian orang. Lawan kata dari sebuah kejujuran lebih sering dilakukan demi sebuah gengsi, harga diri dan hubungan dengan masyarakat.Dua kata yang saling bertentangan namun mempunyai dampak yang sangat besar jika dilakukan atau tidak dilakukan.

Kejujuran atau jujur mengesankan suatu kebajikan, kehormatan dan nilai mulianya akhlak seseorang. Ketidak jujuran atau kebohongan sebaliknya mengesankan keburukan, kehinaan dan rendahnya nilai kemuliaan seseorang. Manusia akan merasa bangga jika dikategorikan sebagai sosok yang jujur, akan merasa berbeda yang akan menimbulkan rasa kepercayaan dirinya yang besar. Kebalikan dengan manusia yang di klaim sebagai manusia tidak jujur akan dikucilkan, tidak dihargai atau bahkan di cemooh.

Itulah sebuah kata yang bisa di prediksi oleh masing-masing manusia dominannya akan sama penilain terhadap kata tersebut.

Tetapi pada prakteknya kejujuran adakala membuat manusia kehilangan teman, kehilangan keluarga, kehilangan kepercayaan, dan tersudutkan. Namun Tuhan tidak tidur, dimata Allah segala hal kebaikan tetap kebaikan walau terkadang menyakitkan, itu untuk sementara. Allah akan mengakat derajat seseorang jika apa yang telah dilakukan dalam hidupnya berpedoman pada apa yang diperintahkan Allah SWT dan menjauhi semua larangan Allah SWT.

Seseorang bisa saja tidak jujur demi menjaga nama baik dan kehormatan dirinya di masyarakat istilah jaman sekarang "Pencitraan" atau memakai topeng. Bertahun-tahun lamanya mampu menyimpan kebusukan, yang tertutup rapi dengan gaya dan penampilan yang menarik, menyulam kelakuan dengan begitu manis hingga masyarakat terkagum-kagum.

Sehingga dimata masyarakat kadang kala yang jujur terlihat hina dan yang munafik justru dikagumi, karena sifat manusia pada dasarnya hanya melihat "Kulitnya" saja atau covernya saja tanpa mau mempelajari lebih dalam apa isinya.

Ok, sahabat,..sekian sedikit coretan dari saya malam ini terima kasih.


Jumat, 16 Februari 2018

JENIS -JENIS TANDA BACA

Pengertian Tanda Baca adalah Suatu simbol atau tanda yang digunakan dalam suatu kalimat atau paragraf

Jenis-Jenis Tanda Baca :
1. Tanda Titik   ( . )
2. Tanda Koma  ( , )
3. Tanda Titik dua ( : )
4. Tanda Petik ( ' )
5. Tanda Seru  ( ! )
6. Tanda Tanya ( ? )
dll...


ad 1. Tanda Titik  ( . )
a. Untuk mengakhiri kalimat.
    contoh :  Welas berlari meninggalkan rumah makan 'Ayam Bakar Ganthari' menuju ke terminal 
                   Blok M.
(Kutipan Novel : Potret Yang Terbuang karya : Indahnya Surya )

b. Menunjukkan bagian atau daftar.
    contoh :  BAB 1. Potret  Itu Tersenyum.
                   BAB 2. Pahitnya Sebuah Pertolongan.
                   BAB 3. Rembulan Tertutup Awan.
                   dst.

c. Menunjukkan waktu
    contoh :  Waktu menunjukkan pukul 14.00 WIB, ketika kami sampai di sebuah masjid.

bersambung....



Minggu, 05 Februari 2017

RENUNGAN PROKLAMASI

RENUNGAN PROKLAMASI


Ketika itu..
Berjuta rakyat tercengang
Dengan telanjang kaki berlari
Dan terus berlari, sambil melonjak kegirangan
Mendengar pidato kenegaraan
Tentang Kemerdekaan.

Terbayang dalam angan
Canda-riang anak-anak bangsa
Gantungkan sejuta cita
Dengan semangat membara
Warisan para pejuang kita
Demi tegaknya negeri tercinta.

Namun kini...
Tak ada lagi pidato kenegaraan
Yang membuat rakyat tercengang
Karena jeritan rakyat terus terdengar
Pengemis tua, anak-anak jalanan
Dan preman-preman masih merajalela
Apakah kekayaan negeri ini
Masih tersisa untuk kami ?


Wahai generasi muda
Wahai penerus bangsa
Bangkitlah
Mari tegakkan kembali
Semangat Pahlawan kita
Jangan sia-siakan keringat dan tetes darah mereka
Mari terus renungkan
Agar mampu memaknai arti kemerdekaan.

Mari bangkitlah bangsaku
Genggam erat rantai persatuan
Kokohkan jiwa patriotisme
Tersenyumlah agar damai nenegri ini.

Dengan Sang Merah Putih ditangan
Mari bergerak maju
Kita terikkan bersama
Merdeka !!! sekali Merdeka tetap merdeka
MERDEKA  !!!.






Jumat, 30 Desember 2016

EPISODE BULAN SABIT

Bukan Matahari yang ingin kuceritakan, tetapi tentang Rembulan. Berawal dari Matahari yang tertutup bumi. Datanglah malam,muncullah rembulan yang setengahnya memancar indah dan setengah lagi bersembunyi. Hingga cahaya Rembulan hilang keutuhannya. Walau hanya bulan setengah namun tetap nampak menarik. Itulah bulan sabit.

Di bawah pohon beringin tua, aku duduk terpana menyaksikan pancaran cahaya indah di langit sana dalam sendiri tanpa bintang-bintang, awan putihpun seakan berhenti bergerak, enggan mendekati. Sekumpulan awan hitam menjauh berbisik bersama teman-temannya untuk menyatu ciptakan mendung. Tiba-tiba...
Gelap menyergap merambah mayapada. Sinar bulan sabit tak mampu menembus awan tebal berwarna hitam. Aku kehilangan wajah rembulanku. Dalam tatapan nanar aku berusaha melangkah untuk mencari pelita di dalam rumah. Langkahku terhenti seonggok batu tak mampu kuhindari. Aku pernah jatuh terantuk batu  itu hingga aku terluka. Dalam upayaku terbangun dari luka, aku berharap rembulan kembali bercahaya namun semua sia-sia.

Sepertinya  Kisah baru, babak ke-2 dengan tema yang sama akan menjadi bagian dalam hidupku. Disini ada pemeran protagonis, antagonis dan peran pembantu. Alhamdulillah, tak ada kebodohan yang berlarut-larut, sehingga keyakinan sudah hadir bahwa semua itu adalah skenario Allah. Semakin dekat dengan-Nya, semakin mampu kita menjadi sutradara bagi dinding-dinding hati kita sendiri. Semua akan berakhir indah seiring berjalannya sang waktu dan berputarnya roda kehidupan. Seperti rembulan itu suatu saat akan memancar utuh kembali menjadi bulan purnama yang akan membuat dunia menjadi terang benderang.


Minggu, 27 Desember 2015

Cerita Abu-Abu

Hari ini semua terasa abu-abu. Sejak pagi, menjelang siang dan tengah hari. Sejenak kusandarkan penat diantara hiruk-pikuk manusia di sekitarku. Kubunuh keresahan dan kebisingan yang memukul-mukul didada. Apa dan bagaimana langkah yang  harus kufokuskan jika semua menuju warna abu-abu.
Aku menyukai warna hijau yang penuh harapan dan kesegaran. Dia menyukai warna merah yang berani dan menantang. Mereka menyukai warna kuning yang penuh keagungan. Sementara dunia begitu berwarna tinggal kita bebas memilih warna kesukaan kita.

Hari semakin siang kesibukan makin terasa disini di sebuah swalayan besar ujung komplek. Aku belum menemukan warna yang kucari semua melesat begitu cepat, belum sempat aku menangkap warna itu telah lenyap bercampur dengan segala hiruk-pikuk dan debu jalanan. Masih saja hijauku penuh harapan. Yang kutunggu untuk setiap langkah yang ingin kulalui. Aku melanjutkan lukisan hati yang belum juga tuntas. Cat air yang kutuang masih sangat basah.

Aku tahu tak semua orang sama warna hatinya, hingga Tuhan memberikan banyak warna di dunia, agar semua manusia dapat memilih warna kesukaannya.  Semua akan menjadi bahagia jika menemukan warna kesukaannya.


BERJALAN DI BEBATUAN



Langkah ringkih telanjang kaki masih tetap terayun. Walau banyak bebatuan di sepanjang jalan. Sejenak seraut wajah kusam tanpa cahaya itu berpaling. Menyaksikan sang surya yang tengah memanggang tubuhnya. Panas terik tak dihiraukan lagi. Keringat bercucuran, kering rasa di kerongkongan. Dia masih akan terus berjalan menuju dermaga di mana pelabuhan tempat dia menanti sang buah hati setelah sekian lama berpisah oleh sebuah sandiwara kehidupan yang membuatnya terbuang dari sanak saudara. Kini perjalanannya hampir berakhir meninggalkan hutan terbakar di lereng gunung gundul dan perkebunan tandus. Kini dia akan berlari menuju pantai dimana akan tercipta damai bersama angan dan mimpi buruknya selama berjalan diatas bebatuan., akan segera menghilang.

Sabtu, 05 September 2015

TAK KENAL MAKA TAK SAYANG



TAK KENAL MAKA TAK SAYANG

Ketika ditawari rumah di kawasan Tangerang, keluarga Surya yang waktu itu masih tinggal di daerah Pasar Minggu Jakarta selatan menolak.Bayangan tentang rumah di Tangerang yang panas, gersang dan banyak polusi terutama dari asap pabrik membuat mereka tidak tertarik.

Namun Maryana yang sudah merasakan tinggal disana, terus mempromosikan Perumahan Citra dengan antusias dan meminta keluarga Surya untuk melihatnya terlebih dahulu. Akhirnya untuk menyenangkan hati temannya, Surya mengajak keluarganya berkunjung ke Perumahan Citra pada bulan Desember 2007.

Pertama kali, keluarga Surya melihat perumahan Graha Pratama, melihat pemandangan lapangan luas ditumbuhi rumput-rumput hijau, pepohonan dan juga patung-patung unik dan menarik benar-benar sebuah kota nuansa seni yang penuh kreasi. Melihat jalur bus Trans Citra Raya dengan berbagai jurusan central di wilayah jakarta dan sekitarnya membuat keluarga Surya makin tertarik, makin kebelakang makin padat penduduknya. Akhirnya Keluarga Surya memutuskan untuk membeli Rumah di Perumahan Citra Raya tersebut.

Bulan-bulan pertama keluarga Surya masih sering pergi ke Jakarta jika ingin liburan atau ke Mall. Rumah yang dibeli di Perumahan Citra hanya digunakan sebagai tempat istirahat yang nyaman saja. Namun tidak disangka di tahun kedua, ketiga dan seterusnya hingga sekarang sudah 8 tahun perkembangannya semakin pesat.


Dari mulai dibangunnya supermarket Giant, Cifest yang di sekitarnya terdapat banyak restoran dimana kita tidak perlu pergi jauh-jauh lagi untuk menikmati makanan seperti Mac. Donal, KFC, Bakso lapangan Tembak, Solaria, Hoka-Hoka Bento dan masih banyak lagi. Seperti Mardi Grass berbagai macam makanan kuliner disana, ada juga fasilitas pendidikan, fasilitas olah raga juga tempat rekreasi. Ada juga pembangunan tempat ibadah dari beberapa agama, disini memperlihatkan betapa kerukunan antar umat beragama dan berbagai suku yang tinggal di Perumahan tersebut benar-benar terjaga.

Pembangunan di bidang kesehatanpun tak ketinggalan juga yaitu dengan dibangunnya Ciputra Hospital. Fasilitas kebutuhan pokokpun terpenuhi dengan adanya City Market, juga ruko-ruko yang menjual berbagai macam kebutuhan hidup dan perlengkapan, baik keperluan sekolah, olah raga dan hiburan semuanya ada.

Keluarga Surya dan semua warga pemukiman di Citra Raya merasakan kenyamanan dan keindahan yang ada di sekitarnya apalagi dengan diluncurkannya Ecocultur pada tahun 2011.

Kini keluarga Surya sudah bertahun-tahun tinggal disana semakin jarang pergi ke Jakarta atau keluar kota bahkan  hampir tidak pernah keluar lagi dari gerbang Citra Raya, semakin hari semakin terasa nyaman, dengan udara segar, pemandangan yang indah, tentram dan damai. Semakin mengenal semakin sayang untuk meninggalkan tempat tinggal yang sekarang.



***









Jumat, 15 Mei 2015

Dunia Tulis Menulis: MENULIS SEBAGAI SEBUAH TERAPIMenulis untuk seb...

Dunia Tulis Menulis: MENULIS SEBAGAI SEBUAH TERAPI



Menulis untuk seb...
: MENULIS SEBAGAI SEBUAH TERAPI Menulis untuk sebuah kenikmatan atau menjadi jenius dengan menulis itu memang benar. Namun tidak ha...
MENULIS SEBAGAI SEBUAH TERAPI




Menulis untuk sebuah kenikmatan atau menjadi jenius dengan menulis itu memang benar. Namun tidak hanya itu menulis bisa sebagai sebuah terapi jiwa. Seperti ketika seseorang mengalami kegoncangan dalam kehidupannya atau mengalami sebuah pengalaman pahit yang membuat seseorang itu frustrasi, mudah marah dan anti sosial jika didiamkan akan menjadi si penderita akan menjadi lebih depresi. Dalam hatinya ingin melampiaskan semua kekesalan dan kegundahan hatinya. Sebelum dia melakukan hal-hal yang negative dan merugikan atau bahkan membahayakan orang lain. Tuntunlah dia untuk bisa melampiaskan melalui sebuah tulisan. Seperti yang pernah penulis alami terhadap seseorang yang tengah menghadapi rasa frustrasi dan kekecewaan terhadap seseorang. Sediakanlah media yang bisa menjadikan tempat si penderita melampiaskan semua isi hatinya. Dan ketika seseorang mengeluarkan satu persatu melalui tulisan-tulisan, perlahan-lahan beban jiwanya semakin berkurang. Biarkanlah si penderita menuliskannya di  selembar kertas dengan segala kata-kata terburuk sekalipun (asal tulis, hanya untuk dibakar) hingga si penderita lelah dan kehabisan kata-kata. Dalam satu hari, dua hari tiga hari bahkan sampai berminggu-minggu ini benar-benar dapat membantu si penderita mengobati dirinya sendiri dari rasa sakit hati dan depresi.
Seseorang yang telah membuktikannya kini sudah menjadi pribadi yang jauh lebih baik, santun, taat beribadah dan sudah mempunyai keluarga dan mampu menjalani hidupnya dengan rasa kesadaran dan kebahagiaan. ***

BELANTARA  HATI



Hatimu bagai belantara luas, terhampar tenang di tengah kota. Itu yang ingin kau ciptakan dalam perjalanan kehidupan,..Namun harapan yang tersia-sia sepanjang masa. Belantara hatimu tak lagi menciptakan tumbuh dan suburnya pohon-pohon rindang, danau-danau biru dengan bunga-bunga yang indah bersama rumput-rumput yang menghijau segar. Belantara Hatimu telah berdiri mall dan gedung-gedung bertingkat, jabatan-jabatan berpangkat, posisi-posisi kuat dengan segala gebyar dunia yang memikat. Dan itu menurutmu,..hebat..!!! Sadarlah dunia ini hanya sesaat..!!

Kamis, 29 Januari 2015

SEMUA MENUJU SENJA
( Lanjutan..


Akhirnya, semalam Nenek Siti menginap di rumah Riska. Riska yang sudah lama ditinggal mati orang tuanya, Ia merasa dekat dan menganggap Nek Siti seperti orang tua sendiri. Riska mendengarkan semua cerita nenek Siti, Riska semakin yakin bahwa Nenek Siti bukan gelandangan, Dia orang baik dan benar-benar dari kampung yang sedang mencari anakknya. 

Nenek Siti menunjukan sebuah alamat, Merry dan Riska segera membacanya. Merry terkejut, lalu berbisik pada Riska temannya. Bahwa alamat itu persis seperti komplek tempat Ia bekerja cuma beda nomor rumahnya saja. Tempat kerja Merry bernomor 62 dan alamat yang di cari Nek Siti bernomor 63. Riska bersorak gembira setelah menemukan titik terang tentang alamat yang dicarinya.

Pagi itu, Riska menyempatkan waktu untuk mengantarkan nenek Siti ke alamat yang dituju dengan naik taksi agar lebih cepat sampai. Merry ikut sekalian menuju ketempat kerjanya. Setelah melewati jalan yang berliku-liku, akhirnya mereka menemukan alamat itu. Sang empu rumah sedang siap-siap menuju ke tempat kerja, seorang lelaki berperawakan tinggi dengan tubuh yang proposional itu membuka pintu gerbang. Nenek Siti tertegun menatap pemuda itu seakan dia mengenalnya, pemuda itupun terdiam, sejenak lalu mendekati Nek siti. Mereka saling menatap tiba-tiba.  "Ibuu,...betulkah itu ibu?" Nenek Siti tak salah lagi, anak lelaki yang sudah berpisah selama 20 tahun itu benar-benar ada di depan mata. "Kamu Danang, nak...? Pemuda itu mengangguk mereka saling mendekat dan berpelukan. Nenek Siti merasa bersyukur dapat bertemu kembali dengan buah hatinya. Danang yang mengira ibunya tidak selamat akibat letusan gunung berapi itu akhirnya merasa sangat beruntung karena ibunya selamat. Merry dan Riska nampak terharu. Mereka dipersilakan masuk kedalam rumah Danang.

Danang menceritakan sejak diadopsi oleh keluarga kaya Danang selalu memikirkan ibunya, karena Danang masih sangat yakin bahwa ibu selamat karena selama bertahun-tahun Danang mencari jasad ibunya namun tidak ketemu juga. Maka Danang konsentrasi dalam belajar dan bekerja, Danang sudah meraih gelar Insiyur lalu mengantikan posisi ayah angkatnya sebagai Direktur Utama. Ayah dan ibunya angkatnya meninggal dunia karena suatu penyakit, hingga Danang menjadi sebatang kara. 

Berbulan-bulan Danang mencari ibunya di kampung tetapi tidak ketemu, begitu pula Nek Siti tidak juga menemukan anaknya. Nek Siti hanya diberi sebuah alamat yang dititipkan kepala desa setempat pasca letusan gunung berapi yang sangat dasyat itu. Kini Nenek Siti tinggal bersama Danang, Riska yang sudah berbuat baik kepada Nek Siti tetap dianggap anak oleh Nek Siti, sehingga hubungan mereka tetap terjalin dengan akrab.

Setahun berlalu, Kedekatan Riska dengan ibunya juga sikap-sikap baiknya menumbuhkan rasa cinta di hati Danang. sehingga diapun menyatakan cintanya kepada Riska. Riska yang memang masih single dan kagum pada Danang akhirnya menerima lamaran Danang. Singkat cerita Mereka menjadi pasangan suami istri hingga mempunyai seorang anak laki-laki bernama Arya.

Merry alias marni yang akhirnya tinggal di rumah majikannya pergi dari rumah Riska  tak lama jatuh cinta dengan sopir majikannya mereka menikah dan memiliki 4 orang anak,.tinggal di perkampungan sempit di belakang komplek.  Untuk membantu perekonomian keluarga sehari-hari Merry berjualan kue keliling komplek. Dandananya sudah tak serapi dulu, keadaan ekonomi yang sulit membuat ia semakin lusuh dan jauh lebih tua dari umurnya. Badannya kurus dan mulai sakit-sakitan namun ia harus tetap bekerja demi mencukupi semua kebutuhan keluarganya.

Siang itu Nek Siti, yang terlihat lebih rapi bersih dan segar tengah menyirami bunga di depan rumahnya yang berhalaman luas. usia Nek siti sudah 55 th, namun terawat ditambah dengan kebahagian di dalam hatinya sehingga sisa-sisa kecantikan di usia mudanya masih nampak jelas. Mendengar suara orang menjajakan kue Nenek Siti beranjak ke jalan, Ia merindukan jajanan pasar. "Yuuk,..beli kuenya!" Suara Nek Siti. Penjual kue itu segera mendekat begitu melihat orang yang hadapannya Merry terkejut. Nek Siti tidak berubah justru terlihat lebih cantik dan bersih, Merry menunduk malu. Merry segera mengambil kue pesanan pelanggannya. Nek Siti mengambil kue dan membayarnya. Untung Nek Siti sudah lupa dengan wajah Merry sehingga Merry tidak merasa malu, Ia segera bergegas pergi, namun dari balik pintu pagar ada suara memanggil. "Merry,......apa kabar? Riska mengenali temannya itu. Namun Merry sudah keburu kabur menjauh. Nek Siti penasaran dan menanyakan pada Riska tentang perempuan penjual kue itu. Riska menjelaskan bahwa itu adalah Marni alias si Merry yang dulu numpang kost di rumahnya. Nek Siti begitu terkejut, sosok yang dulu terlihat, muda, kuat dan manis itu sekarang sudah berubah drastis. 
"Ibu, maafkan sikap Merry waktu itu ya? Riska mencoba bicara meihat ibunya terdiam.
"Tidak apa-apa nduk, ibu sudah memaafkan dari jaman dulu, ibu maklumlah namanya dulu dia masih muda,..Dia lupa kalau pada akhirnya semua menuju tua alias senja,.." Suara Nek Siti seakan mengingatkan pada menantu kesayangannya.
"Iya ibu, pada akhirnya...semua memang menuju senja,..namun walaupun sudah senja kita harus selalu menjaga kesehatan,..salalu bersyukur dan mendekatkan diri pada Allah, agar di usia senja kita berkah, bermafaat bagi anak cucu dan jangan merepotkan anak cucu, ya nggak nduk"
"Iya, betul ibu,..ibu adalah anugrah bagiku yang selama ini merindukan kasih-sayang seorang ibu.!"
"Terima kasih, Nduk..Terima Kasih" Nek Siti dan Riska berpelukan sejenak, lalu mereka melangkah masuk kedalam rumah bergandengan tangan dengan hati bahagia.

Tamat.

Rabu, 31 Desember 2014

SEMUA MENUJU SENJA
(Lanjutan...22 nov 2014)


Gadis cantik berambut panjang itu membawa Nenek Siti ke rumah kontrakannya. Nenek Siti tidak menyangka, ternyata masih ada gadis cantik yang perduli padanya di kota sebesar itu.
"Ini, rumah kontrakan saya, nenek boleh menginap disini untuk sementara besok kebetulan saya libur kerja bisa saya antar mencari alamat anak nenek!"
"Neng, terima kasih nenek sudah merepotkan neng cantik ini!"
"Tidak apa-apa nek,..!" 
"Nenek, duduk di teras dulu saya mau masuk sebentar". Riska segera masuk kedalam rumah, ia menuju kamar Marni temennya yang ternyata kosong. Riska akan memberi tahu Marni, agar Nenek bisa menginap satu hari di kamarnya.

Riska nama gadis itu yang tak lain adalah teman sekampungnya marni alias Merry. Merry kaget  begitu sampai di rumah melihat nenek Siti di teras.
"Nenek,..kok ada di sini?...nenek membuntuti saya ya? maaf nenek saya tidak bisa membantu nenek".
"Eh' si Neng,..saya..sa...".
"Sudahlah Nek,..sebaiknya nenek pergi saja dari sini soalnya ini juga bukan rumah saya".
Ketika Merry berusaha mengusir nek Siti, Riska teman kostnya segera muncul dari dalam rumah sambil membawa sepiring nasi dan segelas minuman.

"Hei, Mer..kamu baru pulang, gimana sudah dapat pekerjaan belum? Riska tersenyum melihat temen yang ditunggunya sudah datang.
"Sudah Ris,..tapi cuma sebagai baby sister..!"
"Bagus itu,.. mengurus anak-anak bukannya menyenangkan?"
"Apa..? Pusing tahu?
"Yang penting kan bukan bagian masak, nyapu, ngepel,..katamu, ya nggak?
"Iya, sih makanya mau kucoba deh".
"Nah, begitu dong harus berani mencoba!" Oya, Merry..kenalkan ini nenek Siti, boleh ya malam ini dia menginap di kamarmu?..soalnya kamarku penuh dengan barang-barang dan pekerjaan kantor".
Merry nampak terkejut, raut wajahnya menunjukan rasa tidak suka. Perlahan Merry menarik  tangan Riska lalu dibawa masuk, seperti akan menyampaikan sesuatu.
"Ris,..memangnya kamu kenal, sama gelandangan itu?"
Riska menggeleng. Merry semakin bersemangat untuk mengusir nenek tua itu, menurutnya ribet menampung nenek-nenek di rumah karena harus tanggung jawab, belum kalau tiba-tiba sakit, harus bertanggung jawab membawa ke rumah sakit. Merry menyarankan untuk menampung gadis muda saja, bisa di suruh-suruh membantu pekerjaan rumah.
Bersambung...


Sabtu, 22 November 2014

SEMUA MENUJU SENJA

Di perempatan patung pancoran Jakarta selatan, berdiri seorang nenek berusia 50 tahun, jalannya menggunakan tongkat, nenek Siti namanya. Ia baru datang dari kampung dengan berbekal sebuah alamat, hendak menyeberang jalan. Hujan begitu deras, di sebuah halte nenek Siti berteduh bersama beberapa orang yang berbondong-bondong ikut berteduh, beberapa orang di sampingnya nampak biasa saja, namun seorang gadis berusia 30 tahunan berwajah sederhana namun bertubuh indah nampak risih berdekatan dengan nenek Siti yang nampak berpenampilan kampung  dan  lusuh.

Gadis berusia 30 tahun, dengan penampilan modis itu bernama Marni, namun semenjak Ia tinggal di Jakarta Marni menamakan dirinya Merry. Merry, gadis lulusan SMA itu sudah 3 bulan menumpang temannya di tempat kost. Merry bermaksud untuk mencari kerja namun belum menemukan juga. Beberapa tawaran kerja datang tetapi hanya sebagai pembantu rumah tangga, pengasuh anak, atau penjaga warung sayur, Merry selalu menolaknya karena Ia merasa tidak pantas untuk bekerja kasar seperti itu. Merry menginginkan kerja di sebuah perusahaan, di restoran terkenal atau tempat-tempat yang menurut dia "WAH"...!

Sudah 5 perusahaan Merry datangi, tetapi tak satupun perusahaan yang menerima lamarannya jawabannya selalu sama yaitu "Tidak Ada Lowongan,..!"
Suatu hari Merry tanpa sengaja bertemu lagi dengan nenek Siti, Nenek Siti segera menyapa, "Eh' Neng ketemu lagi,..! Merry berusaha menghindar melihat penampilan Nenek Siti yang makin lusuh, namun sejujurnya bias-bias kecantikan di masa muda Nek Siti masih tersisa dan nampak jika Nenek sedang tersenyum. Di kampungnya dulu Nenek Siti memang di kenal sebagai bunga desa, namun nenek Siti tidak sombong dengan julukan itu, bahkan bersahaja.
Ketika terjadi letusan gunung berapi yang sangat dahysat di desanya, nenek Siti mengungsi hingga terpisah dengan anak semata wayangnya yaitu Danang. Danang yang waktu itu masih SD ikut penduduk yang  tinggal di pengungsian. ,Danang mengira ibunya sudah meninggal karena tertimpa longsoran gunung berapi, hingga Danang bersedia diadopsi anak oleh keluarga kaya di Jakarta.

"Neng...,saya Minta tolong untuk mencarikan alamat ini? nenek Siti mencari secarik kertas.
"Sa,..Sa,.ya, buru-buru nek, sama yang lain saja ya?" Merry segera berlalu dari hadapan nenek Siti. Nenek Siti terbengong dengan raut wajah kecewa.

Nenek Siti, terus melanjutkan perjalanan, perbekalannya sudah hampir habis namun anaknya belum juga diketemukan. Perasaannya mulai sedih, rasa lelah dan lapar mulai menyerangnya membuatnya putus asa. Di kota besar seperti metropolitan itu, Nenek merasa tak ada orang mau perduli dengannya, mungkin dirinya sudah dianggap semacam gelandangan atau pengemis liar sempat beberapa kali dia diusir jika berada di tempat yang terlihat bagus.
Nenek Siti berusaha menyeberang jalan,.tiba-tiba"..."Din-din-din,....Ciaatt..!! sebuah tangan menarik nenek Siti dengan segera untuk di bawa ke pinggir jalan. Sebuah mobil warna merah membuka kaca mobilnya muncul wajah anak muda sambil memandanginya, tanpa suara tanpa kata anak muda itu kembali menutup kaca mobilnya dan berlalu dari hadapan Nenek Siti.

"Lain kali kalau mau menyebrang, hati-hati Nek,..! Suara seorang gadis cantik berambut panjang itu mengingatkan. "Iya Nak, terima kasih sudah menolong saya!"
"Nenek mau kemana, ini sudah mau malam nenek sebaiknya pulang saja!"
"Justru itu Nak, saya belum menemukan alamat anak saya".
"Memang alamat rumah anak Nenek di mana?
Nenek Siti segera menunjukkan secarik kertas yang sudah mulai kumal karena genggaman dan cara penyipanan nenek yang asal-asalan yaitu hanya di selipkan kedalam lipatan kainnya.
Gadis cantik itu mengambil sebuah alamat lalu membacanya, setelah membaca gadis itu segera mengatakan bahwa alamat itu masih cukup jauh dari situ dan lagi jalanan macet, maka gadis cantik tadi mengajak Nenek untuk tinggal sementara di rumah kontrakkannya.

Bersambung...








Jumat, 07 November 2014

KAMPUNGKU KAMPUNG SANG JENDERAL


     Temaram sang surya mengukir senja, remang menjelang membawa insan ke peraduan. Angin sepoi menerpa jiwaku yang nelangsa, karena "Arjuna" kekasihku pergi jauh mengemban tugas negara ikut mengamankan negara bersama para gerilyawan Indonesia menuju ke kota Batavia.

      Di desa Rendeng Kabupaten Purworejo tempat aku lahir, merupakan Desa yang tenang dan tanpa gejolak kini di sebut sebagai kota pensiun. Tahun 1960, usiaku sudah 25 tahun merupakan usia yang sudah tua bagi seorang gadis perawan di kampungku. Namun aku belum menikah. kedua adikku Asih dan Atik yang berusia 23 dan 20 tahun itu masing-masing sudah punya kekasih. Aku mengiklaskan saja mereka menikah meski mereka tidak mau alasannya mereka tak sampai hati untuk melangkahiku. Kedua adikku mendesakku agar cepat menikah mereka sudah sangat malu menyadari kami yang biasa dijuluki "Tiga Dara" belum ada satupun yang menikah.

"Asih,..mbak nggak opo-opo kalau kamu mau menikah duluan!"
"Tapi,..Mbakk ..
"Wis nggak usah pakai tapi-tapian, besok panggil mas Bagus, kita atur waktunya nanti tinggal ngabari Bapak, ben bapak kondur,.jadi wali nikah kamu"
"Tapi,..piye mbak,njenengan..?
"Wis nggak usah piye-piye,..sing penting kowe ndang cepet nikah, mbak ikut senang!"
Akhirnya Asih menyetujui saja kehendakku. Asih langsung di boyong ke Batavia.

Selang Tiga bulan, Adikku Atik ikut kakaknya merantau ke Batavia dan kini tinggallah aku sendiri. Ibuku sudah lama Almarhum semenjak Atik berusia 3 tahun selama itu aku dan bapak mengasuh adik-adik bersama-sama. Bapak kerja di Semarang sebagai petugas pengairan sawah, sejak ibu meninggal bapak giat sekali bekerja meski harus berpindah-pindah tempat namun bapak jalani demi menafkai kami anak-anaknya,, sungguh perjuangan bapak luar biasa meski harus sendirian selama bertahun-tahun.

**

"Eni, ayo teruskan menulisnya,...! suara eyang wongso membuat aku tersadar dari lamunan.
"Oh, enjih-enjih eyang,..nyuwun pangapunten..! 
Aku meneruskan menulis sebuah surat. Eyang Wongso adalah majikanku, selain aku kerja di toko tak segan-segan aku di panggil oleh eyang untuk membantu semua keperluannya terutama dalam hal komunikasi dengan putra-putrinya yang jauh melalui surat atau kadang-kadang melalui pesawat telepon.

Eyang Wongso adalah Ibunda Jenderal Anumerta Ahmad Yani, kantor pusatnya di Batavia namun sering dikirim ke berbagai kota bahkan juga keluar negeri. Sejak dari kelas enam SD, aku sudah di panggil dan menjadi Assisten Pribadi eyang wongso. Eyang Wongso adalah pribadi yang sangat baik, ramah, tidak sombong dan sangat dermawan terutama pada rakyat kecil, selain aku ada empat orang lagi yang mengurusi eyang, ada bagian masak, bagian nyuci, bagian nyapu dan tukang kebun, aku bagian surat-menyurat beliau sangat baik dengan kami semua sehingga beliau sangat disegani dandi hormati  di kampung Rendeng bahkan di kalangan kabupaten semua sudah sangat mengenal beliau sebagai ibunya Jendral.

Eyang Wongso sebagai pribadi yang sangat tegar terbukti ketika anak lelaki kesayangannya menjadi korban penculikan dan di bunuh di malam G30 SPKI, beliau tidak menangis atau meneteskan air mata namun kelihatan sekali dalam tatapan matanya yang kosong ada kesedihan yang teramat dalam.
Eyang masih mampu tersenyum menyambut para pejabat kabupaten dan beberapa pejabat penting negara mengucapkan turut berbela sungkawa. Eyang sudah sangat menyadari profesi anaknya di bidang kemiliteran memang resikonya sangat berat namun Eyang sangat bangga dengan tekad anaknya untuk membela negara meski harus berkorban jiwa dan raga, eyang selalu mendukung apapun yang dicita-citakan anaknya tercinta karena memang cita-cita itu mulia.

Sore itu Eyang memanggilku, dan aku segera menghadap aku pikir eyang menyuruh aku menulis surat atau menyuruhku untuk membaca sebuah surat namun ternyata bukan dan aku terkejut,
"Eni, ada telepon itu dari pacarmu,..wah..sudah punya pacar tho..! Eyang menggoda membuat aku menjadi malu. Aku segera bergegas menuju ke ruang tengah, dan benar juga suara seseorang yang sudah lama sekali aku rindukan.
"Selamat sore,..!
"Njih,.Njih, Selamat sore,..! Aku tergagap sambil tersipu malu.
Tiba-tiba...suara telepon di seberang sana berubah nyanyian...rupanya mas Arjuna menyanyikan lagunya Broery Marantika berjudul Ijinkan Aku Pergi.
"Ijinkan aku pergiii.....apalagi yang engkau tangisi,..semogalah penggantiku dapat lebih mengerti hatimu,..Memang berat kurasa,..meninggalkan kasih yang kucinta,  namun bagaimana lagi, semuanya harus kujalani,..selamat tinggal kudoakan,..kau selalu bahagia...hanya pesanku jangan lupa kirimkan kabarmuu,,,Bila suatu hari dia membuat kecewa di hati, batin ini takkan pendam mendengarmu hidup menderita,.Selamat tinggal kudoakan kau selalu bahagia...".
Tanpa terasa airmataku menetes, akupun sesenggukan.

Lagu itu lagu terakhir yang dinyanyikan mas Arjuna untukku, aku tak mengerti kenapa mas Arjuna tega-teganya memutuskan tali kasih ini.Selidik punya selidik ternyata telah terjadi salah paham, tanpa kuketahui ada seorang laki-laki yang selama ini membuntutiku bahkan selalu menungguku jika aku sedang bekerja di Toko. Lelaki asing itu selalu mengikuti kegiatanku sejak aku masih di rumah, berangkat ke toko sampai pulang dan juga aku ke rumah Eyang. Aku tidak pernah tahunamun Mas Arjuna ternyata lebih tahu siapa laki-laki itu yaitu salah seorang pegawai Puskesmas di kecamatan Gebang. Walaupun Mas Arjuna bertugas di Batavia tetapi mas Arjuna punya mata-mata juga di sini.

Diam-diam laki-laki yang belum kuketahui namanya itu sudah menemui bapakku dan berniat melamarku, hal ini di ketahui oleh mas Arjuna, padahal aku sama sekali belum menganalnya namu mas Arjuna telah salah paham dan mengira bahwa aku telah menerima lamaran itu.

Hingga kudengar kabar, setelah pimpinan Mas Arjuna meninggal yaitu Bapak Jenderal Anumerta Ahmad Yani, Mas arjuna di pindah tugaskan ke luar jawa dan kabar terakhir, Mas Arjuna menikah dengan gadis sebarang...pupuslah sudah harapanku...aku jatuh sakit,..dan sempat di rawat hampir sebulan di rumah sakit tentara Purworejo,...aku mengindap penyakit usus buntu sehingga harus di operasi, adik-adikku yang sudah punya anak kecil-kecil tak sempat menungguku di ruma sakit, Bapakku juga sangat sibuk sehingga hanya sesekali menengokku di rumah sakit, namun Eyang sudah memasrahkan aku pada seorang suster,.dan ternyata sosok misterius itu akhirnya muncul, dia dengan sabar menungguku di rumah sakit siang malam menjagaku di rumah sakit,..dia Adalah Anton yang selama ini membuntutiku dan membuat Mas Arjuna meninggalkan aku.

Rasa kekecewaan masih kurasa sehingga kesal melihat sosok lelaki itu,..bertahun-tahun aku terpuruk dalam kesedihan, adik-adikku semua sudah menikah dan punya anak, ayah semakin tua dan usiaku sudah kepala 3, semua orang sudah menebutku sebagai perawan tua, melihatku yang masih sendiri membuat ayah sedih dan mulai sakit-sakitan, agar ayah senang, akhirnya di usiaku yang ke 32 tahun akhirnya kau menerima lamaran lelaki asing itu yang mengaku sebatang kara.

Mungkin benar pepatah "Witing Tresno Jalaran Soko Kulino" lama-lama aku dapat mencintai mas Anton, dan aku melahirkan empat orang anak, 2 laki-laki dan dua perempuan, tanpa kuduga ketika anak-anakku remaja, keluarga besar Mas Anton datang semua berasal dari kota mereka sangat bahagia bertemu saudaranya kembali setelah terpecah-pecah akibat perang dan kerusuhan yang terjadi di tanah air. Kini aku hidup bahagia di kampung Rendeng, kampung sang Jendral. jika mengingat sang jenderal akan mengingatkanku pada sosok Mas Arjuna,..yang telah membuat luka, kini aku akan melupakannya demi masa depan anak-anakku tercinta.

                                                                 *******



Senin, 27 Oktober 2014

HIJRAH

Jika suatu keyakinan sudah memudar, bersama daun-daun kering yang berguguran. Dan jika hati tertata rapi dalam sepi dan kebisuan yang semakin panjang menenggelamkan kedalam sumur mati penuh keterasingan. Dan jika tiada lagi kehangatan rasa dalam jiwa, serta langit-langit jiwapun tertutup kabut hingga tak nampak suatu cahaya bersinar disana. hanya keresahan yang membelenggu kalbu, mengapa engkau masih bertanya? kenapa bumiku sendu?...

Langkahmu santai namun lunglai....ke danau itu,...danau kering di padang luas,..diantara pohon-pohon tua yang telah hangus terbakar...oleh api cemburu,..yang membelenggumu hingga beku..!!
Dan kau masih duduk meratap dengan tatapan kosong diatas batu tua,..yang menganga menahan panas sinar matahari,..dan engkau kembali berjalan dengan kakimu, dengan tanganmu, dengan punggungmu, dengan kepalamu...untuk mencari air..air kehidupan yang tak pernah kau temukan, karena kau hanya berputar-putar di hutan terbakar...hingga mata nanar dan terkapar...

Sadarilah,..engkau sebenarnya hanya berjalan dengan pikiranmu, hingga kelelahan mampu meluluh-lantakkan jiwa raga. Dan ketika malam tiba,..entah ,malam yang keberapa juta bulan, engkau terpikir untuk ber-HIJRAH", dengan semangat membara, hasrat bergelora, harapan seakan didepan mata untuk mencari air kehidupan, mencari keindahan pemandangan mencari kedamaian hati, mencari kesejukan sebuah danau, mencari keramahan penduduk dengan segala dunia baru engkau ingin menyatu, bangkit dan tinggalkan masa lalu...menunggu pagi seakan semua berseri...

Dan ketika pagi tiba, kau terjaga...dari tidurmu diatas batu tua,...ketika kaki hendak melangkah namun..kadua kakimu telah lumpuh,...sedikitpun tak dapat kau gerakkan,...berjuang dan terus berjuang sekuat tenaga namun kegagalan selalu yang diterima....harapan sirna,..mulutmu tak sanggup lagi berteriak,..semua telah pergi tinggalkan engkau yang berhati batu...untuk langkahmu..yang selalu ragu,..bertahan di hutan tanpa harapan....kini penyesalan hanya tinggal penyesalan..!
Ingatlah,..Hijrahmu terlambat,..saat engkau kuat...!!!


Selasa, 21 Oktober 2014

KUGENDONG KAU KE SURGA

Kau memang tidak terlalu cantik namun kau menarik dan tidak membosankan, gaya bahasamu yang polos bahkan terkesan culun, bagi sebagian orang yang tidak suka, kamu dibilang bodoh karena memang suka agak Telmi..he..he..he, maaf. Namun bagiku kau luarrr biasa.

Kubaca sejarahmu,  sebagai gadis pendiam dari keluarga sederhana tinggal di desa, namun aku tahu keluarga ayahmu hampir semua ada di kota besar dan akupun tahu siapa saja mereka.

"Arneta Marbela",..itu nama pemberian ayahmu. Karena engkau tinggal di kampung teman-temanmu suka memanggilmu  "Mar,..atau si-Mar,.." Apapun panggilan mereka engkau tetap menerima saja. Ketahuilah aku memanggilmu "Bela  si- Bidadari Surga"

Sifat ayahmu yang otoriter, keras membuat tetangga tak begitu akrab dengan keluargamu.
"Bela,..siapa sih pacarmu? Tanyaku ketika bertemu. Dengan malu-malu kamu hanya menggeleng. Begitu lulus SLTA kamu sudah langsung bekerja hinga 3 tahun dan selama ini orang sekampung tidak pernah mendengar siapa nama pacarmu.

Semua temanmu, Ani, Siti, Yati, Tuti, Wati  pernah mempunyai kekasih tetapi hanya kamu yang selalu sendiri. Kesendirianmu memicu prediksi orang lebih menyedihkan lagi, kamu dianggap sebagai gadis yang tidak normal karena sampai usia dewasa tidak pernah mengenal cowok. Beberapa ejekan sempat dilontarkan padamu, bahkan Ani temanmu yang paling jago menaklukan banyak cowok, menawari bekas pacarnya untuk diberikan padamu karena si Ani sudah punya gebetan baru. "Masya Allah" sungguh memprihatinkan masa remajamu. namun bagiku kau tetap menganggumkan, kau tetap pendiam, mengalah dan sabar menerima semua ejekan itu.
Kau merantau ke kota,...disana di saudara kaya, namun kau tetap sederhana kau juga tidak memanfaatkan kekayaan saudaramu. Bela, engkau tetap bersahaja dengan tampilan pakaian barumu yaitu berjilbab, meski di kampung kau sempat diejek dengan jilbabmu itu namun sampai di kota engkau tetap memakainnya.

Bela tak tahukah kau bahwa diam-diam aku mencintaimu, bersaing dengan seorang sahabatku sampai akhirnya dia menyerah sebelum mengatakan cinta padamu karena kami tak pernah berani mendekatimu,..entah kenapa? padahal kau tidak galak,  tidak judes dan tidak sombong tetapi kenapa aku juga nggak berani mendekatimu?

Bela, Tujuh tahun engkau merantau ke Jakarta dan bekerja di berbagai macam bidang pekerjaan. Dua tahun Engkau di sebuah penerbitan majalah, satu tahun engkau kerja di sebuah sekolah, engkau juga pindah lagi bekerja yang akhirnya di sebuah perusahaan kontraktor, engkau tinggal di sebuah rumah kost yang terkenal dengan sebutan "Tempat kost Tante Wanda"..aduuh' Bela kenapa engkau kost di disana? Ketahuilah Bela, aku sempat mencemaskanmu sehingga akupun membuntutimu dan tinggal tak jauh dari rumah kostmu.

Aku selalu menerima berita tentangmu,..engkau yang tidak berubah meski bergaul dengan gadis-gadis cantik berpenampilan masa kini. Jilbabmu tak pernah kau lepas meski di sekitarmu berseliweran teman-teman kostmu dengan rok mini, sepatu hak tinggi ataupun dengan celana-celana ketat. Hanya sekata dan dua patah kata yang suka kau ucapkan untuk sedikit menasehati teman-temanmu selebihnya adalah contoh yang engkau berikan.

Beberapa temanmu yang tidak suka meledekmu dengan sebutan "Ustadjah lelah" karena ada embel-embelnya 'Perawan Tua", padahal usiamu baru 27 tahun. Engkau hanya tersenyum saja dengan ledekan itu. Ada beberapa temanmu yang akan menjodohkanmu, karena mereka yakin dengan kamu tahu dan mengenal cinta sendiri tak akan berani lagi menasehati mereka. Sebenarnya kamu tidak menasehati hanya ingin mengingatkan namun justru niat baikmu menjadi bumerang bagi dirimu sendiri.

Sementara itu di luar lingkungan sekitar, engkau mendapat predikat buruk juga akibat tinggal ditempat kost yang tergolong bebas. Bela.. secepatnya kamu harus keluar sebelum kejadian yang tidak diharapkan menimpamu karena firasatku berkata begitu.

"Bela, Kamu mau kemana?" tanyaku ketika melihat Bela keluar kost dengan membawa tas besar. "Aku, mau pulang kampung mas,..lho mas Iksan kok ada di sini? Bela terheran-heran melihatku. Bela tidak pernah tahu bahwa aku adalah keponakan Bosnya tempat dia bekerja.
"Mas Iksan, teman abangku di kampung dulu ya? teman SMA? Aku mengangguk.

Sebelum sempat pergi, beberapa teman kostmu keluar dan memarahi dan memaki-makimu. Bela rupanya kamu dituduh merebut pacar salah seorang teman kostmu yang paling centil. Mas Bagas anak bungsu dari pemilik kost yang paling ganteng dan digandrungi semua anak kost, itu sebenarnya hanya menitipkan kunci kamar pada Bela, untuk kamar kosong yang akan ditempati oleh penghuni kost baru namun semua telah salah paham dan berkat laporan semua anak kost akhirnya Bela dikeluarkan dari tempat kost,..dengan tuduhan yang menyakitkan,...namun Bela, engkau justru mengucapkan "Alhamdullilah",...karena engkau menyakini bahwa semua yang terjadi adalah kehendak Allah yang terbaik. Yah...aku rasa juga lebih baik begitu, karena memang beberapa teman kostmu, aku telah mengenalnya,..seperti apa kepribadian mereka, sebaiknya tinggalkan saja Bela.

Predikat 'Perawan Tua' yang melekat di dirimu tidak pernah membuatmu malu atau patah semangat begitupun ketika engkau dituduh sebagai cewek yang dan bodoh tidak laku engkau tetap tersenyum, aku benar-benar salut karena engkau penuh rasa percaya diri,..bahwa suatu hari nanti jodoh pasti akan datang padamu jika waktunya sudah tiba.

Bela  atas nama Allah, aku yakin siapa dirimu dan apa yang telah kau lakukan, kau hanya menjalani takdir dengan iklas,..kau tidak pernah dendam atau membalas sakit hati yang sering engkau rasakan semua kau serahkan pada Sang Pencipta.

Bela,..kini saatnya dengan segala keyakinan dan kepercayaanku aku akan maju untuk melamarmu. mari kita buka lembaran baru, kita lupakan masa lalu menyongsong hari baru. Dan semua tercengang ketika langkahku dengan pasti membawamu di pelaminan, aku akan merubah semua penderitaanmu menjadi kebahagiaan, semua airmata dukamu menjadi airmata bahagia. "Bela kau adalah bidadariku" ijinkan aku menjadikanmu seorang istri, karena wanita sepertimulah yang aku cari selama ini.

Bela, setelah kita mengucap ijab Qobul ternyata engkau benar-benar masih 'bodoh',..he..he..he maaf,...namun bagiku engkau tetap luar biasa,..sekarang aku adalah gurumu. Sekarang aku siap mengajarimu. Setelah engkau mengetahui apa itu Neraka dunia kini saatnya aku akan mengajarimu tentang surga dunia,...Mari Bela,.."KUGENDONG KAU KE SURGA...!!!"